Pelaku akademik UNP akhir-akhir ini seringkali berbondong-bonÂdong pergi ke luar untuk melaÂkukan studi banding. Bak jauh panggang dari api, studi banding kehilangan esensi, berubah menjadi agenda pelesiran.
Rahmad Dedi, salah satu mahasiswa Kimia tengah bingung lantaran 16 April mendatang, ia dan mahasiswa kimia (non kependidikan) lainnya diharuskan mengikuti Kunjungan Industri. Meskipun lokasi yang akan dikunjungi merupakan kota besar, yaitu Bandung dan Jakarta, tetap saja ia merasa pelik dengan keharusannya mengikuti KI. Ia bingung lantaran pihak jurusan dan fakultas mengharuskan seluruh mahasiswa kimia mengikuti KI, sedangkan mata kuliah ini berbobot 0 SKS. "Kenapa tidak diberikan SKS saja," ujarnya, Kamis (14/2).
Selain itu, KI juga menjadi salah satu syarat wajib bagi mahasiswa untuk mengajukan seminar. Sebelum melakukan seminar, mahasiswa diharuskan mengumpulkan laporan hasil KI yang telah didiskusikan dengan ketua prodi. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan Rahmad kenapa ia akan mengikuti KI.
Pernah Rahmad dan mahasiswa kimia lainnya protes kepada fakultas terkait pelaksanaan KI, namun sampai sekarang belum mendapatkan tanggapan. Protes itu terkait pengadaan bobot SKS untuk mata kuliah KI. "Kalau pelaksanaannya seperti itu, tidak ada penghargaan bagi mahasiswa," terang Rahmad.
KI merupakan suatu kegiatan mengunjungi perusahaan atau instansi yang bertujuan memberikan gambaran kepada mahasiswa terkait ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah dengan realita di lapangan. Namun bagi sebagian mahasiswa, KI banyak merugikan. Selain membutuhkan dana yang cukup besar, tidak adanya penjelasan terkait KI, kegiatan ini juga dianggap hanya menambah jadwal mahasiswa saja.
Setahun sebelumnya, Muhamad Shobri dan beberapa mahasiswa Kimia lainnya tengah berembuk untuk menentukan lokasi KI. Saat itu ada dua lokasi yang diusulkan, Jawa dan Batam. Setelah memÂpertimbangkan dana dan perusahaan yang akan dikunjungi, akhirnya disepakati Batam sebagai lokasi KI. "Kita tahu ke Batam lebih murah dari segi ongkos," kata Shobri sambil menyantap kue, di depan koperasi mahasiswa MIPA, Rabu (13/2).
Setelah tujuan ditentukan, selanjutnya menentukan perusahaan-perusahaan yang akan dikunjungi. Selama perjalanan menuju Batam, terdapat juga beberapa perusahaan yang dikunjungi, seperti di Pekanbaru mengunjungi PT. Indah Kiat (pabrik kertas) dan PT. Indofood, di Dumai mengunjungi PT. Pertamina dan di Batam mengunjungi perusahaan Eko Green Oleochemical. Selama pelaksanaan di lapangan, mahasiswa mengikuti persentasi yang diberikan pihak perusahaan, mendengarkan cerita profil perusahaan, dan diajak berkeliling mengamati proses produksi.
KI seakan tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan acara jalan-jalan. Selama perjalanan seluruh mahasiswa dan dosen pembimbing juga meÂnyempatkan mengunjungi Candi Muara Takus, Pantai Coastarina, Kampung Vietnam, Jembatan Balerang dan tidak ketinggalan shoping. Shobri mengatakan bahwa acara jalan-jalan merupakan agenda yang telah disepakati bersama, jadi harus dilaksanakan.
Sementara itu, ditemui di ruangannya ketua prodi Kimia (non kependidikan) Budhi Oktavia, M.Si, Ph.D membantah jika KI banyak merugikan mahasiswa. Budhi mengatakan bahwa Prodi kimia (non kependidikan) bersifat terapan, jadi tidak cukup hanya dengan teori-teori di kelas saja. Selain itu, tujuannya adalah menunjukkan kepada mahasiswa, dimana nantinya ilmu kimia itu akan diterapkan. "Mahasiswa perlu tahu mengenai bagaimana penerapan ilmu yang telah mereka pelajari, itu bisa didapatkan saat pelaksanaan KI," ujarnya, Senin (4/2).
KI dilaksanakan paling lama satu minggu dan diikuti bagi semua angakatan jurusan Kimia (non kependidikan). Kegiatan KI ini juga didampingi maksimal empat dosen, dua pembimbing mahasiswa, satu pimpinan jurusan, dan satu dosen yang mengajar matakuliah. Bagi seluruh dosen yang mengikutinya, semua biaya ditanggung pihak jurusan, sedangkan bagi mahasiswa diharuskan menyediakan budget tergantung kesepakatan.
Terkait keberadaanya yang tidak memiliki bobot SKS, Budhi meÂrencanakan beberapa tahun ke depan matakuliah KI akan dimaÂsukkan ke dalam SKS. Dengan mengabungkan matakuliah yang hampir sama, seperti Kimia Industri dan Praktek Industri. Nantinya ketiga matakuliah tersebut akan digaÂbungkan menjadi satu matakuliah, menjadi matakuliah Kimia Industri dengan empat beban SKS. Namun rencana tersebut belum akan terealisasi di tahun 2013, dikarenakan masih dalam peromÂbakan kuriÂkulum.
Tidak hanya di jurusan kimia, beberapa program studi di Fakultas Teknik (FT) juga menyelenggarakan kegiatan yang sama,–KI. Di FT terdapat beberapa prodi yang rutin melaksanakan KI, diantaranya juruÂsan Elektronika, Mesin, Otomotif, Pertambangan, dan beberapa jurusan lainnya.
Namun berbeda dengan yang ada di kimia, di FT kegiatan KI tidak diwajibkan bagi mahasiswa. Seperti halnya di jurusan Teknik Mesin yang rutin tiap tahun mengadakan KI. Menurut Nelvi Erizon, ketua jurusan teknik mesin, tidak diwajibkannya KI dikarenakan pihak jurusan tidak ingin membebani mahasiswanya. Meskipun tidak diwajibkan, namun pihak jurusan tetap menghimbau agar semua mahasiswa Teknik Mesin mengikuti KI. "Selain dapat menambah pengalaman dan pengetahuan, KI juga diharapkan bisa memotivasi mahasiswa untuk tambah giat belajar," ujar Nelvi, (14/2).
Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) lebih serius lagi dalam menyelenggarakan studi banding. 2012 lalu, dengan nama kegiatan Kunjungan Belasan, FIK mendanai 38 mahasiswa, PD3 dan beberapa dosennya untuk mengunjungi Fakultas Olahraga di Universitas Negeri Medan (Unimed). Di sana mereka melakukan beberapa kegiatan, seperti pertandingan bola voli dan tenis antar mahasiswa dan dosen. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan hubungan silahturahmi kedua fakultas tersebut. Selain itu, peserta studi banding juga melakukan kegiatan lainnya, seperti melihat aktivitas akademik, berdiskusi bebas dan saling berbagi rancangan kurikulum.
Willadi Rasyid selaku dosen sekaligus peserta dalam lawatan tersebut, mengaku bahwa kegiatan studi banding tersebut sangat bermanfaat bagi personal maupun fakultas. Selain bisa meningkatkan tali silaturahmi, studi banding juga bisa memberikan nilai-nilai positif untuk melakukan pembenahan nantinya. Misalnya dalam pembangunan kolam renang, di UNP sampai sekarang belum juga rampung, sedangkan Unimed memiliki kolam renang yang sangat megah. Selain itu, rupanya Unimed mendapatkan bantuan dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) lebih banyak dari pada UNP.
***
Sore itu sekretariat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) terlihat sepi. Hanya ada salah satu pengurus Hima bernama Bobi yang tengah asyik berselancar di dunia maya. Beberapa saat berselang, Wisman selaku ketua Hima Bahasa Indonesia dan Daerah (Basindoda) tiba di depan sekretariat. Dengan mengenakan mantel, Wisman hendak menyerahkan map pengajuan judul skripsinya ke jurusan. Sekembalinya dari jurusan, akhirnya Wisman bersedia menceritakan kegiatan studi banding yang ia dan mahasiswa Bahasa Indonesia lainnya lakukan Januari lalu.
Dengan menambahkan sedikit kata "kunjungan budaya", jadilah nama studi banding itu dengan kata Kunjungan Budaya dan Studi Banding (KBSB). Bertepat 20 Januari 2013 lalu, Wisman dan 26 mahasiswa lainnya didampingi satu pembimbing, mengunjungi Universitas Udayana. Tujuannya adalah untuk berdiskusi terkait akademik, seperti organisasi, budaya, dan sebagainya. Alasan kenapa memilih Bali, Wisman berujar bahwa Bali merupakan salah satu daerah yang hingga saat ini tetap menjaga kebudayaannya. "Kita di sana bisa lihat banyak sekali cagar budaya yang masih dipertahankan," ujar Wisman, Kamis (7/2). "Objek wisata juga banyak sekali di sana." Selama di Bali, peserta KBSB juga mengunjungi beberapa lokasi wisata, seperti Danau Bejugul, Tanah Lot dan Pantai Kuta.
Selain Bali, perjalanan yang berlangsung selama 14 hari 14 malam tersebut, juga mengunjungi kota-kota besar lainnya, diantaranya Jogjakarta, Bandung dan Jakarta. Di Jogja, peserta KBSB mengunjungi Universitas Gajah Mada, di Bandung mengunjungi Universitas Pendidikan Indonesia, di Jakarta mereka menuju Monas dan Bundaran Hotel Indonesia serta tentunya, tidak lupa diselingi dengan mengunjungi lokasi wisata di kota-kota tersebut.
Wisman juga mengharapkan agar ke depannya kegiatan studi banding dapat rutin dilakukan. Hal itu dikarenakan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk menunjang perkuliahan, semangat organisasi dan pengalaman. "Banyak sekali manfaat yang bisa didapat," ujar Wisman.
Salah satu dosen pembimbing studi banding jurusan Pendidikan Ekonomi, Halkadri Fitra mengungkapkan bahwa studi banding harus lebih diefektifkan lagi. Seperti halnya masalah rute yang akan dituju, seharusnya selesaikan terlebih dahulu yang akademis baru dilanjutkan kegiatan refreshing. Selain itu jumlah peserta studi banding juga harus dievaluasi lagi, karena terlalu banyak. "Apakah perlu yang pergi sebanyak itu?," ujar Halkadri.
Halkadri juga merasa orang yang kurang tepat ketika ditunjuk sebagai dosen pendamping, karena ia bukan dari dosen jurusan Pendidikan Ekonomi melainkan Manajemen. "Kalau masalah konten saya juga tidak kompeten, karena dosen yang ditunjuk berhalangan jadi saya yang ditunjuk."
Seakan tak mau kalah, dosen juga cukup antusias dalam melakukan kegiatan studi banding. Sebut saja studi banding yang dilakukan dosen jurusan Fisika pertengahan 2011 silam, yang berkunjung ke National University of Singapura (NUS) dan Universitas Sains Malaysia (USM), lalu berselang dua pekan, giliran jurusan Matematika yang berkunjung ke Universitas Teknologi Malaysia (UTM), dan yang terbaru ada dosen Fakultas Ilmu Pendidikan yang juga berkunjung ke Malaysia Februari 2013 lalu.
Tujuan studi banding tersebut pun sama saja dengan apa yang dilakukan mahasiswa, tatap muka untuk memperkenalkan masing-masing lembaga, diskusi mengenai kurikulum, proses perkuliahan, kunjungan labor dan kegiatan akademik lainnya.
Dalam kunjungannya, jurusan matematika dan Uniten pernah berinisiatif untuk melakukan kerjasama. Kerjasama tersebut berupa pertukaran
Ironisnya, studi banding tersebut hanya berlangsung selama satu hari saja, selebihnya dimanfaatkan untuk pelesiran ke berbagai negara, seperti Singapura dan Thailand. Lutfiah mengaku hal itu wajar saja, karena ajang untuk "penyegaran" setelah disibukan rutinitas kerja. "Ini merupakan salah satu hal yang pasti akan kesempatan bagi alumni untuk melanjutkan studi. Namun sampai sekarang, inisiatif tersebut belum pelajar, beasiswa belajar dan memberikan kesempatan bagi alumni untuk melanjutkan studi. Namun sampai sekarang inisiatif tersebut belum terealisasi. "Kerjasama yang diinginkan belum bisa terwujud," ujar salah satu dosen Matematika yang juga peserta studi banding, Drs. Lutfiah Almash, MS, Jumat (22/2).
Ironisnya, studi banding tersebut hanya berlangsung selama satu hari saja, selebihnya dimanfaatkan untuk pelesiran ke berbagai negara, seperti Singapura dan Thailand. Lutfiah mengaku hal itu wajar saja, karena ajang untuk "penyegaran" setelah disibukan rutinitas kerja. "Ini merupakan salah satu hal yang pasti akan dilakukan dalam rangkaian studi banding".
Bak bertepuk sebelah tangan, kegiatan studi banding yang dilakukan mahasiswa maupun dosen UNP tak segencar kunjungan yang dilakukan pihak luar ke UNP. Pernah UMS dan UTM berniat melakukan kunjungan balik, namun sampai sekarang belum terealisai.
Menurut Eka Vidya Putra, S.Sos, M.Si dosen Sosiologi UNP, studi banding patut dicurigai dan dicari tahu apa motif sebenarnya. Saat ini studi banding hanya dijadikan tameng bagi pelakunya untuk pelesiran. Hal itu dapat dilihat dari rangkaian kegiatan yang banyak jalan-jalannya, lokasi yang menjadi tujuan studi banding tersebut penuh dengan objek wisata. "Lalu ujung-ujungnya ke tempat wisata juga," ujarnya, Jumat (15/2).
Eka juga mempertanyakan terkait bahan yang distudibandingkan dan dampak yang dihasilkan. Selama ini ia menilai itu hanya sebatas kunjungan lalu tidak ada kelanjutannya. Ia tidak sepakat jika di UNP masih ada studi banding, kecuali memang urusan urgen, fokus, dan dirasa memang perlu belajar dengan pihak lain. Misalnya masalah parkir. UNP perlu belajar ke universitas yang jumlah mahasiswa dan luas kampusnya relatif sama, namun pengelolaan parkirnya bagus. Tapi tidak juga harus berbondong-bondong. "Kirim sajalah dua atau tiga perwakilan. Itu yang namanya studi banding," lanjut Eka.
Ia juga mempertanyakan esensi studi banding yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya mahasiswa adalah pihak yang paling konyol dalam melakukan studi banding. Meskipun uang yang dipakai adalah uang pribadi, tapi tetap saja tidak ada esensinya. Apa manfaat untuk orang lain? Apa manfaat untuk kampus? "Kalau hanya untuk membawa nama UNP agar dikenal pihak luar, itu bodoh sekali", terang Eka. "Sebagai kaum intelek, kita harus memÂperkenalkan diri dengan karya," ujar Eka.
Laporan: Kru SKK Ganto
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!