Padang, 24 Mei 1990
Sudah pukul sebelas malam. Aku lurus saja, melanjutkan perjalanan yang belum tahu labuhannya. Untuk mengenyangkan perut yang mulai tak bersahabat, aku menghibur diri dengan memetik senar okulele yang reot. Aku berbelok ke kanan, ke arah Queen Bar. Lampu remang-remang berkedap-kedip. Bar itu ramai oleh wanita-wanita yang tengah berkeliaran di sekitar sana. Ada yang laku dan adapula yang sabar menunggu langganan baru. Aku menyeberang ke arah Bar yang yang seperti hiruk pikuk pasar malam itu.
Seorang pelacur mendelok ke arahku dan mengerdipkan sebelah matanya. Dengan sepucuk batang Sampoerna yang juga terpancung di tangannya, ia semakin nakal melihatku. Aku menekur.
Umurku sudah 18 tahun. Hampir tiga belas tahun aku hidup di jalanan. Sesekali aku rindu siapa bapakku. Aku rindu siapa ibuku. Aku rindu siapa adikku. Aku rindu siapa kakakku.
Meskipun belum cukup umur, tapi psikologiku hampir sama dengan laki-laki 25 tahun. Aku lama dikalangan segala macam umur. Sehari-harin aku besar di antara sekelumit anak jalanan yang menjajal nasib tepat diperempatan lampu merah jalan Jendral Sudirman, Padang. Meski aku tidak bersekolah, tapi aku punya cita-cita. Aku punya mimpi dan sederetan ideologi yang jauh.
Perut keroncong sialan ini semakin menjengkelkan. Aku duduk tersandar di pagar Bar yang dipenuhi coretan Grafiti. Lamunanku terpecah. Pelacur itu menghampiri dan menyelipkan selipat tipis rupiah di tanganku yang gemetar.
"Ini buat makan. Hanya sekedarnya saja. Terimalah." Bau wangi tubuhnya meninggalkan cerita.
Kukembangkan selipat rupiah yang ia selipkan di tangan kananku tadi. Astaga. Lembaran seratus ribu rupiah. Tiba-tiba laparku kenyang seketika.
Taman Melati begitu temaram. Lampu jalanan meredup berwarna kekuningan. Aku mengajak Ajim, sahabatku masuk ke sebuah kedai sate.
"Tenang Jim. Hari ini kutraktir kau makan."
"Ah, dapat duit dari mana kau, Jap?"
"Adalah pokoknya..." Ujarku berahasia.
"Nyopet lagi?"
"Sembarangan. Ini uang halal. Jangan banyak tanya. Makan saja atau kau bayar sendiri?"
"Eh, iya. Satenya enak. Enak. Begini terus kan enak. Hahaha"
Tanganku mendorong kepala Ajim. Dia tampaknya girang dapat makan enak hari ini. Hampir sepekan aku tak pernah lapar lagi. Termasuk Ajim. Namun di hari yang selanjutnya, uang itu meninggalkan kantong celanaku perlahan. Celaka. Kelaparan lagi.
Kali ini aku beriring berjalan menuju kawasan Taman Melati dengan Ajim. Tampak sederetan Taxi biru berjejer. Sejumlah pemuas birahi sudah berada di masing-masing Taxi.
"Jam barapa?"
"Dua belas"
"Lapar?"
Tiba-tiba Taxi biru berhenti di hadapan kami. Ia buka kaca sedikit. Wanita itu di dalamnya.
"Hey, sini. Ini untukmu."
Seperti badai, Taxi itu berlalu. Lagi-lagi, di tanganku ia selipkan selipat rupiah yang agak banyak jumlahnya. Ada uang kertas 50ribu dan 20ribuan.
Di dalam uang kertas itu, tertulis nama dan nomor telepon. "Andini/0751-775826". Tapi ini nomor siapa? Semakin aku melihat uang itu, aku semakin bertanya-tanya. Gerangan apa ini?
"Jap?" Aku sudah tahu bahasa mata Ajim. Malam itu kami akhirnya bisa makan. Tapi aku tetap heran, siapa wanita itu?
***
Di sebuah halte yang sepi dan jalan sunyi, aku dan Ajim sering tertidur merangkai mimpi. Tak peduli dengan datangnya Satpol-PP. Bila mungkin mereka datang. Selokan di dekat itu sudah sedia menjadi tameng kami.
"Jafraima."
"Ibu !!!"
Aku ingin memeluk Ibu. Tapi urung lantaran ada gerak hati yang menahanku. Rasanya samar-samar seburam kenangan yang tertinggal di Panti Asuhan Cinta Kasih sejak Ibu meninggalkanku hampir tiga belas tahun lalu. Aku kuat-kuatkan diri hendak merangkul Ibu. Tapi suara klakson Fuso sialan membangunkan tidurku. Juga suara knalpot mobil anak Racing yang berkeliaran. Aku tersentak. Sialan.
Sejenak, aku linglung terbangun. Kukeluarkan sisa uang yang tersimpan di saku celana, beserta secarik kertas yang terselip bersama uang tersebut kemarin. Sedikit remoh. Aku meninggalkan Ajim sebentar menuju telepon umum.
Beberapa saat aku mencoba menghubungi no telepon itu. Barangkali karena sudah larut malam orang itu tak mau terima telepon. Aku coba terus, dan terus.
"Selamat malam. Dengan siapa ini?" Sepertinya suara perempuan berumur 60 tahun-an.
"Andini?"
"Andini? Andini siapa?" Balas ibu tua itu.
"Ini ibu andini? Aku dapat nomor ini dari .."
"Maaf ini siapa? Di sini tidak ada yang namanya Andini. Kalau mau tahu tentang Andini silahkan datang ke alamat..." Samar-samar kedengarannya dari luar box telepon umum itu.
Aku jauh meninggalkan Ajim yang terlelap di halte. Aku temukan alamat di perbincangan telepon tadi. Berbekal ingatan, aku hanya mengantongi alamat yang disebutkan orang dalam pembicaraan telepon tadi.
Tampak halaman panti asuhan yang sunyi. Hari sudah mulai terang. Mentari mulai menziarahi pagi. Ku dorong pagar panti asuhan itu pelan-pelan. Dari jarak tiga meter pintu masuk, aku berteriak.
"Permisi. Permisi....Permiii??"
Tiba-tiba keluar seorang ibu kira-kira berumur 60 tahun itu.
"Siapa ya?"
"Saya, saya Jafraima. Mana Andini?"
"Jaf? Jafraima?" ia menatapku heran dari atas hingga bawah. Ia peluk aku erat-erat. Aku heran.
Kemudian pembicaraan bermulai di meja tamu.
"Sudah hampir tiga belas tahun lebih. Ibumu tidak memberi kabar tentang dimana ia sekarang. Bahkan kebutuhanmu dan kakakmu pun ia tak mau tahu. Hingga kakakmu tak tahan dengan keadaan. Ia pergi meninggalkan panti asuhan ini. Dan di saat itu kau masih berumur tujuh tahun. Kau juga ikut menghilang dari panti asuhan ini, Jaf."
"Kakak?"
"Ya, satu-satunya orang yang masih kau punya sekarang mungkin kakakmu. Andini namanya."
"Jadi? Andini?"
"Ya. Dia kakakmu. Saudara kandungmu. Ibumu dulu menitipkan kalian berdua di panti asuhan ini. Ia bekas pekerja seks di hiburan malam. Queen Bar. Aku sering menasehatinya untuk berhenti. Tapi sia-sia. Dan kotak suara yang masih kau pegang itu adalah kado ulang tahun dari Andini sebelum ia pergi "
Segera aku lari. Air mataku berhujan di pipi. Aku remuk. Aku tak tahu harus berbuat apa. Tiang listrik kupukuli hingga tanganku luka.
Malam mulai kembali dalam kegulitaannya. Sudah kupersiapkan semuanya. Aku pergi malam itu mencari Andini. Gerimis tebal menggigilkan tulangku. Sementara itu kotak nada yang masih kugenggam mengingatkan aku kuat untuk mencarinya. Malam sudah pukul dua belas kurang seperempat. Mataku putih mencari dimana Andini. Kuamati setiap Taxi biru yang mangkal. Aku memberanikan diri masuk ke Queen Bar. Aku dicegat penjaga bertubuh tegap itu. Aku malah dicampakkan. Aku di lempar keluar.
Tiba-tiba aku melihat Andini akan pergi dengan lelaki maskulin parlente. Sepertinya ia akan dipakai malam ini. Tidak. Tidak akan kubiarkan kali ini. Ia harus menjagaku. Aku tak mau kehilangan ia setelah kehilangan ibuku.
"Andini!"
Kukejar mobil mewah hitam itu.
Kularikan motor ojek yang kuambil begitu saja. Semakin kencang mobil itu. Aku membawa tanpa sadar kendali lagi. Hampir dekat. Sedikit lagi. Tepat dihadapan sebuah hotel besar yang bersebelahan dengan Plaza di arah jalan Air Tawar, Padang. Aku mengejar mereka. Aku hilang jejak. Sialan. Aku dicegat satpam lagi. Aku dilempar keluar. Tubuhku kurang besar untuk melawan. Aku berdiri lagi. Aku mencoba melawan lagi dan menghadang. Satpam itu terkapar disaat ia menghajarku. Aku bangun dari hindikan itu.
"Ajim?"
"Cepat cari kakakmu di dalam. Aku melihatnya tadi masuk, kamar 13"
Buru-buru aku menuju kamar itu. Melalui tangga aku mempercepat langkah menuju kamar 13. Kotak nada itu masih setia di tanganku tergenggam. Itu dia, kamar 13.
"Buka! Buka pintunya! Keluar! Andini! Keluar!" Aku menghardik dari luar.
Tak juga keluar. Aku memberontak. Keras-keras ku tampar pintu kamar itu. Dan kemudian terbuka.
"Lelaki hidung belang sialan!" Aku menghajar lelaki itu hingga ia terjatuh tersungkur.
Andini tersudut di kamar melihat sosokku. Aku menarik Andini. Wanita itu bingung dengan kehadiranku. Pikirku ia masih ingat dengan wajahku. Paling tidak dengan beberapa hari yang lalu ia masih ingat dengan wajahku.
"Kamu siapa? Lepas! Lepas kataku! Hei, jangan berani-berani denganku!"
"Tidak. Ikuti aku. Kau akan tahu siapa aku."
Beberapa langkah aku menarik Andini keluar dengan pakaian yang belum sempurna terpasang.
Dari arah dekat suara tembakkan itu mengakhiri perjuanganku. Aku terjatuh bersimbah darah. Lelaki hidung belang itu! Ia melarikan diri di sela-sela kaparanku. Seketika kotak nada itu pun juga ikut tercampak terlempar dua meter dari kaparanku. Kotak itu terbuka. Kotak itu bernada kembali. Kotak itu mengingatkan semua masa lalu. Nada itu mengingatkan semua cerita itu. Andini menggenggam kotak nada itu dan menaruh di dadaku yang tertembus peluru. Ia menangis sejadi-jadinya. Di saat itulah sepatah kata keluar dari mulutnya "Adikku..."
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!