Laporan Utama

Sejumlah Pihak Mulai Patuhi Aturan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 15 Mei 2012 22:51 WIB • 👁 1.495 Pembaca

Meskipun aturan yang dikeluarkan Dirjen Dikti berubah status dari diwajibkan menjadi dianjurkan. Namun, tetap saja masih ada kalangan yang menyikapi dengan serius kebijakan itu

Belakangan, setelah mendapat kritik dari berbagai pihak yang tidak setuju dengan kebijakan ini, Dikti mulai menurunkan status surat edaran ini dari wajib menjadi dianjurkan. Dalam sebuah media online, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan surat edaran Dikti memang tidak ada kekuatan hukum. Dipertegas pula oleh Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Idrus Paturusi yang mengatakan telah diperoleh kesepakatan antara MRPTN dan Dirjen Dikti bahwa surat edaran itu hanya berupa dorongan sehingga tidak ada sangsi bagi mahasiswa yang tidak menjalankannya (edukasi.kompas.com).

Meski begitu, jurusan Kimia Universitas Negeri Padang (UNP) sudah mulai mensosialisasikan dan menerapkan aturan ini kepada mahasiswa walaupun dengan cara yang sedikit berbeda dengan arahan yang dibuat Dikti. Di Jurusan Kimia UNP, selain menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir, mahasiswa strata satu juga diwajibkan untuk membuat poster dan artikel ilmiah. Poster menggambarkan secara ringkas isi dari skripsi yang dibuat. Biasanya berupa bagan-bagan dari penelitian yang dilakukan. Poster dibuat dalam selembar kertas yang cukup besar dan kemudian ditempelkan di laboratorium kimia. Sedangkan, artikel ilmiah merupakan intisari dari skripsi yang dibuat. Biasanya terdiri dari lima belas hingga dua puluh halaman.

Aturan seperti ini sudah berlaku sejak semester lalu dan akan terus diterapkan hingga seterusnya. Salah satu hal yang membuat aturan ini berbeda dengan kebijakan Dikti adalah artikel yang dibuat mahasiswa masih berupa hardcopy dan belum dipublikasikan melalui jurnal. "Sejauh ini, artikel dikumpukan kepada Ketua Prodi dan menjadi arsip prodi," ujar Dra. Andromeda, M.Si., Ketua Jurusan Kimia, Sabtu (21/4).

Ia juga mendukung perihal kebijakan yang dikeluarkan Direktorat Pendidikan Tinggi tersebut mengingat banyak dampak positif yang ditimbulkannya. Salah satunya dapat meminimalisir tindakan plagiat. Andromeda menyayangkan ada sebagian mahasiswa yang ketahuan berlaku curang. "Copadit. Copy, paste, edit," jelasnya. Plagiarisme tidak akan terjadi jikalau artikel ilmiah tersebut sudah dipublikasi karena akan cepat diketahui prilaku plagiatnya. Tak hanya itu, jurnal ilmiah juga bisa meminimalisir penumpukan skripsi di perpustakaan yang akhirnya menjadi sampah ilmiah. Alasan lain yang tidak kalah penting menurut Andromeda adalah biaya pembuatannya yang jauh lebih murah daripada skripsi.

Ia menambahkan pembuatan artikel ilmiah yang nantinya diharapkan bisa dipublikasi di jurnal tersebut sejalan dengan pembuatan skripsi. Maksudnya, mahasiswa selain diberi arahan dalam pembuatan skripsi juga dibimbing untuk membuat artikel ilmiah. Untuk menambah pemahaman mahasiswa juga dibantu dengan buku petunjuk pembuatan artikel yang telah dibagikan.

Tidak hanya jurusan Kimia UNP, upaya untuk mengusahakan agar mahasiswa mampu menulis artikel ilmiah dan terpublikasi di jurnal ilmiah juga dilakukan oleh sebuah Event Organizer (EO) di Kota Padang, yaitu EO Lentera. Penggerak Lentera terdiri dari mahasiswa UNP dan Unand. Untuk mendukung kebijakan baru ini, mereka mengangkatkan sebuah kegiatan berupa Seminar Nasional Jurnal Ilmiah Berbasis Pelatihan yang diadakan pada 5 Mei lalu di Unand.

Dalam seminar tersebut dihadirkan Guru Besar dan Pimpinan Dewan Redaksi Jurnal Antropologi Prof. Dr. Nusyirwan Effendi dan Dosen Sastra Unand yang juga mantan Ketua Forum Lingkar Pena Sumatera Barat Ronidin SS., M.A. Pemateri yang dihadirkan merupakan orang-orang yang telah mempublikasi karya ilmiahnya di jurnal terakreditasi nasional.

Elsa selaku kru Lentera mengatakan kegiatan ini diangkatkan sebagai upaya tindak lanjut dari aturan Dikti yang baru saja dikeluarkan Dikti. "Di Unand, SK rektor sudah keluar untuk pelaksanaan surat edaran ini," Ujar Elsa. Peserta yang hadir saat itu lebih dari 50 orang. Mereka berasal dari berbagai kampus yang ada di kota Padang, seperti: UNP, Unand, dan STKIP. Namun, sebagian besar berasal dari UNP dan Unand.

Sebagai penyelenggara kegiatan, Elsa berharap dengan diadakannya seminar tersebut mahasiswa tidak lagi kebingungan dalam membuat karya ilmiah yang nantinya akan dipublikasi di jurnal.

Meri/Dedi

Laporan : Winda

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Meri/Dedi (laporan: Winda)
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.