Agama

Islam dan Keironisan Politik

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 15 Mei 2012 20:50 WIB • 👁 1.738 Pembaca

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu kamu menjadi orang -orang yang bersaudara karena nikmat Allah...(QS.Ali Imran (3):103).

Dewasa ini, tidak sedikit masyarakat yang memisahkan antara Islam dan politik. Banyak yang memiliki pemahaman bahwa perpolitikan tidak berpengaruh terhadap tersyiarnya ajaran Islam sehingga mereka menyimpulkan berbicara politik tidak dapat dikaitkan dengan hakikat keislaman, begitu sebaliknya.

Politik merupakan hal sakral yang menjadi pembicaraan di setiap level kehidupan masyarakat, terutama generasi muda/mahasiswa. Sedangkan perpolitikan merupakan suatu proses pendewasaan berfikir seorang mahasiswa, yaitu dengan olah analisa dan pemahaman dalam mencanangkan program terbaru demi kemakmuran bangsa dan negara. Di tengah pertarungan perpolitikan dewasa ini, kondisi kesolidan umat Islam menjadi terancam. Ketidakstabilan persatuan mulai mekar di tengah kuatnya rantai ikatan persaudaraan seiman. Namun, ada satu hal yang mulai dilupakan oleh generasi muda Islam di Indonesia yang terwakili dalam sebuah pertanyaan besar sepanjang imperium peradaban manusia, "Apakah yang menyebabkan umat Islam tidak bisa bangkit kembali sebagai penguasa dunia sampai abad ini?"

Sejak akhir masa pemerintahan khulafaurrasyidin,umat Islam mulai terpecah belah karena perebutan kekuasaan oleh sistem politik "belah bambu" (menjatuhkan golongan seiman yang lain demi kepentingan golongan sendiri). Pada akhirnya, Islam menjadi korban perang saudara, sampai-sampai mengorbankan cucu Rasulullah SAW dan para sahabat yang mulia. Hal tersebut terjadi hingga kini. Saat ini, tidak terlihat lagi sosok Umar bin Khattab yang tegas dalam pemerintahan yang bersih. Kehebatan Umar melebihi Kaisar Julius Caesar, Charlemagne dan Alexander the Great sebagaimana tertera dalam buku Michaell Hart, The 100. Ketika itu, Islam masih berada di kota kecil Mekah. Berkat beliau, Islam mampu melindas imperium besar Romawi dan Persia, kerajaan terbesar di dunia.

Ratusan tahun belakangan, tak nampak lagi sosok kesatria Harun Ar-Rasyid, seorang pemimpin yang adil dan bijaksana sehingga baghdad menjadi kota yang tidak ada tandingannya di seluruh dunia. Tahta kemudian diwariskan kepada Khalifah Al-Makmum. Masa itulah lahir matematikawan muslim Al-khawrizmi (Penemu aljabar) dan Ibnu Sina (Bapak Ilmu Kedokteran Modern), Ibnu Hitham (Bapak Ilmu Optik), Alghazali (ahli filsafat), dan banyak yang lain. Ingatlah, pada masa itu, Islam menjadi super power dunia. Politik yang kuat menciptakan ekonomi yang tangguh dan ilmuan yang cerdas. Itulah sebagian bukti sejarah yang mengungkap kejayaan islam tanpa perpecahan.

Kerinduan akan pemimpin dan pemerintahan seperti ini berharap bisa kembali ada. Namun, jika umat Islam masih mengedepankan ego golongan yang berkuasa atau kepentingan individu, jangan pernah berharap kejayaan Islam akan seperti dulu. Sama-sama diketahui, pesona kekuasaan dalam perpolitikan memiliki daya tarik yang luar biasa untuk memicu terjadinya konflik, pertengkaran, dan pertumpahan darah di kalangan umat Islam sendiri. Sebagai buktinya adalah konflik perebutan kekuasaan politik yang terjadi di Timur Tengah dan di berbagai negara Islam seperti; Iran, Irak, Mesir, Kuwait, Pakistan, Afghanistan, Aljazair, dan sebagainya.

Hal ini terlihat di ranah kehidupan mahasiswa Indonesia. Perpecahan ideologi menjadikan generasi muda bangsa, khususnya mahasiswa mulai terpecah. Perpolitikan "belah bambu" akhirnya menjadi pilihan. Dapat dilihat dalam pemilihan presiden BEM Universitas di Indonesia, atau pemilihan calon bupati, gubernur dan presiden sekalipun. Begitu banyak partai yang menyatakan diri Islam yang berpecah dalam golongan. Ideologi dan kecerdasan politik seperti inilah nanti yang akan mengusung percaturan politik bangsa ke depan yang tidak diharapkan.

Pembuktian otentik mengenai perpecahan bangsa ini dibuktikan oleh sejarah bangsa, terlihat dengan berseminya jumlah partai politik. Pada 1971, pemilu diikuti oleh sepuluh partai politik, tahun 1977-1997 diikuti oleh tiga partai politik, tahun 1999 diikuti oleh 48 partai politik, tahun 2004 diikuti oleh 24 partai politik, sedangkan tahun 2009 yang lalu diikuti oleh 38 partai politik dan enam partai politik lokal Aceh. Kemungkinan angka ini akan bertambah. Di sini terlihat jelas, umat Islam telah terpecah berdasarkan partai masing-masing dan tidak jarang kepentingan partai menjadikan persaudaraan seiman dan sekeyakinan menjadi goyang. Inilah yang dicamkan oleh alquran QS.Ali Imran (3):103.

Memang kejayaan Islam bukan tergantung kepada kekuasaan politik. Kekuasaan politik hanyalah satu dari sekian banyak cara yang menjadi pintu masuk bagi kejayaan dan kemuliaan Islam di muka bumi. Sekarang bagaimana mensinergikan dan menyesuaikan pergerakan politik dengan kandungan Al-Quran. Inilah yang harus menjadi fokus utama umat Islam. Sebenarnya, seluruh sisi kehidupan manusia jika bersentuhan dengan isi dan petunjuk Al-Quran akan mengantarkan umat islam menjadi umat teladan dalam arti sesungguhnya.

Untuk mengatasi hal ini, beberapa langkah yang harus diperhatikan masyarakat Islam dalam menghadapi tantangan dan dilematika dalam politik adalah dengan menauladani keunggulan kepemimpinan politik Rasululah SAW yaitu; unggul, berani, visioner, partisipatif, prestatif, dan disiplin. Unggul dalam berbuat baik, belajar, ilmu, kemampuan, dan prestasi. Keunggulan ini membuat Ia dihormati. Memimpin dengan pemahaman, pencerahan, dan kesabaran, serta tauladan, tidak otoriter dan paksaan. Rasulullah dahulunya aktif membimbing pengikutnya untuk memperluas ilmunya, termasuk belajar ke negeri yang jauh.

Ditambah dengan kecerdasan intelektual dan moral yang qurani, maka Rasululah saw mampu melihat mana yang benar dan salah. Walaupun beliau dapat langsung mendapat wahyu dari Allah, tetapi beliau tetap menerima dengan baik semua masukan dan tidak mencela sesama. Rasulullah juga mampu memecahkan masalah saat renovasi Ka’bah, Ia mampu meyakinkan orang dengan kekuatan karakternya. Inilah salah satu nilai yang paling disegani manusia. Beliau tidak pernah ragu dalam memperjuangkan kebaikan. Semua keunggulan ini hanya dapat diperoleh dengan disiplin dan ketahanan yang sangat tinggi.

Kejayaan Islam yang telah melemah selama berabad-abad harusnya bisa terbantu peningkatannya dengan keikutsertasan campur tangan para mahasiswa Indonesia. Saling bahu membahu dalam sebuah payung keislaman. Hindari perpecahan demi kekuasaan dengan jalan yang tidak sehat. Ciptakan perpolitikan yang madani, bukan politik belah bambu. Berorientasi kepada kemajuan bangsa yang lebih baik, bukan kepada kemajuan golongan dan egoisme pribadi. Menjadikan Al-Quran sebagai landasan berfikir, bukan hanya sekedar untuk panduan shalat dan ibadah rutinitas belaka. Insya allah dengan mengamalkan semua ini perpolitikan sebagai wasilah (jalan) menuju kejayaan islam bisa menuntun menuju kemakmuran negara yang lebih baik.

"Sesungguhnya tidak ada yang berhak menjadi pemimpin kamu, melainkan Allah dan rasulNya dan mereka yang beriman, yang mendirikan shalat, dan membayar zakat. Mereka itu tunduk (taat) kepada perintah Allah".

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Muhammad Zukir
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.