Belum sembuh benar rasanya luka yang ditinggalkan oleh gempa yang terjadi di tahun 2009 dan 2010 lalu,kini bencana kembali menimpa daerah di Sumatera Barat.
Hujan deras yang turun sejak Rabu (2/11) hingga Kamis dini hari (3/11) di Pesisir Selatan, Sumatera Barat ternyata membawa dampak buruk bagi masyarakat. Penduduk yang tengah asyik tidur nyenyak karena cuaca dingin tiba-tiba dibangunkan oleh suara gemuruh dan suara aliran air yang sangat deras. Tak lama, luapan air itu langsung menghanyutkan rumah warga yang berada dekat dengan aliran sungai. Banjir Bandang itu datang dan menghancurkan dalam sekejap mata.
Banjir bandang melanda delapan kecamatan dan menggenangi sekitar 50 nagari (desa). Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (5/11/2011), menyebutkan kecamatan tersebut antara lain Batang Kapas, Sutera, Lengayang, Ranah Pesisir, Linggo Sari Baganti, Pancung Soal, Bab Tapan, dan Lunang Silaut. (sumber: news.okezone.com). Sementara itu, sekitar 51 unit rumah hanyut, 21 unit rusak berat, 73 unit rumah rusak sedang, dan 201 unit rumah rusak ringan.
Naasnya lagi, banjir yang disebabkan oleh meluapnya sungai Batang Surantih ini juga memakan korban. Enam orang meninggal dunia dihanyutkan banjir. Tiga warga dari Lengayang, yatiu: Ismaidarnis (40 tahun), Syamtia (22), dan Neisya (8). Tiga warga lainnya berasal dari Linggo Sari Baganti yang bernama Kidit (65 tahun), Rayos (24), dan bayi yang berusia 9 bulan. Sedangkan, sebanyak 52.123 jiwa terpaksa mengungsi.
Bencana ini juga merusak fasilitas umum yang ada di daerah tersebut, salah satunya adalah jalan lintas Sumatera menuju Bengkulu. Jalan tersebut rusak parah sehingga transportasi terpaksa dipindahkan ke jalur alaternatif. Jalur alternatif inipun belum bisa cukup menampung jumlah kendaraan yang melintas sehingga kemacetanpun tidak bisa dihindari.
Belum selesai bencana yang menimpa daerah Pesisir, awal Desember ini angin kencang disertai hujan deras juga menerpa Padang dan kawasan Pesisir di Sumatera Barat. Angin kecang yang disebabkan oleh badai tropis ini dikabarkan juga hampir menelan korban jiwa, beberapa kelompok nelayan yang sedang melaut hilang terseret gelombang besar dan baru bisa kembali setelah berhari-hari berlayar tanpa tujuan.
Rentetan bencana yang terjadi seakan mengukuhkan Sumatera Barat sebagai daerah rawan bencana. Sejak gempa besar yang terjadi pada 30 September 2009 lalu, Provinsi Sumatera Barat tak henti ditimpa bencana. Jika dirunut satu-persatu, jumlah bencana yang telah terjadi ini tidak bisa lagi dihitung dengan jari. Pasca Gempa 30 September yang menelan ribuan korban jiwa dan menimbulkan kerugian materi lebih dari 4 triliun rupiah itu, gempa susulan masih sering terjadi dengan kekuatan kecil hingga sedang. Bahkan gempa dengan kekuatan besar kembali menghentak kawasan pantai Sumatera Barat pada 25 Oktober 2010. Namun kali ini gempa tersebut disertai tsunami dan menghancurkan daerah Mentawai. Ratusan orang dinyatakan meninggal dan ratusan lainnya dinyatakan hilang.
Banyaknya bencana-bencana yang datang tak pelak menjadi momok tersendiri. Tidak hanya masyarakat yang menetap di daerah rawan bencana, tapi ketakutan ini juga menghampiri mahasiswa yang berasal dari luar Sumatera Barat. Seperti yang diungkapkan oleh Sanna Paija Hasibuan, Mahasiswa Pertanian Universitas Andalas. Sanna yang baru tinggal di Sumbar beberapa bulan ini merasa canggung dan resah dengan seringnya terjadi bencana. "Tapi saya tetap kuat karena, saya mempercayakan takdir kepada Tuhan," ujarnya Kamis, (24/11)
Tidak teraturnya pergantian cuaca akhir-akhir ini menyebabkan munculnya badai tropis. Curah hujan yang tinggi periode bulan Desember-Januari membuat masyarakat harus tetap berjaga-jaga dan meningkatkan kewaspadaannya terhadap bencana yang akan terjadi. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penaggulangan Bencana Sumatera Barat, Ade Edward.
Menurut Ade, peristiwa yang terjadi di Pesisir Selatan lalu merupakan awal dari serangkaian bencana yang diperkirakan akan terjadi. Jika dilihat dari potensi bencana ke depan, tambahnya, Indonesia khususnya Sumbar masih akan mengalami bencana lagi. Apalagi, periode Desember-Januari ini merupakan periode badai tropis. Badai tropis ini bisa membawa berbagai bencana seperti Banjir, tanah longsor, angin puting beliung, badai angin, erosi tebing, dan abrasi pantai. Hal itu diakibatkan oleh curah hujan yang sangat tinggi. "Akhir-akhir ini, sering terjadi hujan yang sangat lama, mencapai 12 jam," katanya, Kamis (24/11). Lebih lanjut, Ade mengingatkan agar masyarakat yang bermukim di daerah sekitar sungai, tebing yang rawan longsor dan juga tepi pantai untuk tetap waspada.
Ica/Dedi/Afdal
Laporan: Tila,Anshar,Tuni,Azizah
Masyarakat Pessel Masih Butuh Bantuan
Luapan Sungai Surantih Pesisir Selatan telah merusak infrastuktur yang ada di sekitar lokasi bencana banjir itu. Beberapa ruas jalan rusak parah dan tidak sedikit fasilitas umum lainnya juga ikut hancur diterpa banjir bandang. Salah satu jalan yang rusak parah akibat banjir adalah jalan lintas sumatera dari Sumbar menuju Bengkulu. Jalan ini rusak sangat parah sehingga kendaraan yang ingin melaluinya harus di pindahkan ke jalur alternatif. Meskipun demikian kemacetan tetap tidak bisa dihindarkan karena jalur alternatif yang ada tidak cukup memadai untuk menampung jumlah kendaraan yang ingin melintas. Tak hanya itu, ratusan rumah warga juga rusak, mulai dari rusak ringan sampai rusak parah hingga tidah bisa dihuni lagi.
Pasca banjir, keadaan di Pesisir meskipun belum pulih namun sudah berangsur membaik. Tim KSR-PMI UNP yang datang memberikan bantuan Kamis, (17/11) menggambarkan kondisi di daerah banjir sudah mulai dibenahi. Salah seorang anggota KSR-PMI UNP yang berangkat ke Pesisir adalah Dori Farewel. Ia menjelaskan bahwa masa tanggap darurat di Pesisir sudah lewat. Bahkan keadaan di sana sudah berangsur normal kembali. Namun, tambahnya, masih ada daerah yang terisolir yang belum bisa mendapat bantuan sepenuhnya yaitu daerah Sungai Liku. "Daerah tersebut menyerupai pulau yang dikelilingi oleh peraian," ujar Dori. Ketika menyerahkan bantuan waktu itu pun tim KSR-PMI UNP tidak dapat mencapai daerah tersebut, sehingga wargalah yang harus mejeput bantuan ke posko bantuan.
Selama ini, terang Dori, masyarakat daerah Sungai Liku, yang terdiri dari 24 kepala keluarga, hanya menggunakan ban untuk bisa keluar menuju daerah lain. Ban merupakan alternatif satu-satunya bagi masyarakat daerah sungai liku tersebut untuk keluar dari peraian, karena jembatan yang biasanya dipergunakan untuk menuju daerah terebut putus.
Tim KSR berada di pesisir selama 2 hari 1 malam dan masih akan kembali lagi kesana untuk menyerahkan bantuan. "Daerah tersebut masih memerlukan banyak bantuan," tutup Dori, Selasa (6/12).
Korban Banjir Pessel dari UNP
Tak bisa dipungkiri, kehadiran bencana selalu saja membawa petaka bagi para korbannya. Berbagai kerugian harus ditanggung, tak hanya kerugian materil tapi kerugian moril harus ditanggung. Bencana yang terjadi di daerah Pasir Putih, Pesisir Selatan bulan lalu telah mengakibatkan 6 orang tewas, meskipun dua orang diantaranya belum ditemukan tapi Tim SAR telah memastikan mereka tewas. Puluhan orang luka-luka, puluhan rumah rusak parah dan puluhan lainnya rusak ringan. Dari sekian banyak orang yang menjadi korban bencana, beberapa orang diantaranya adalah mahasiswa yang berkuliah Universitas Negeri Padang (UNP).
Salah satu korban bencana yang merupakan mahasiswa UNP adalah Mutiara Ekinsta, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Bagian belakang rumah mutiara rusak parah diterjang banjir, selain itu warung yang merupakan salah satu sumber pendapatan orangtuanya juga habis terbawa banjir. Hal ini disebabkan karena memang lokasi rumahnya merupakan daerah yang paling parah terkena dampak banjir. Menurut Mutiara, kerugian yang diderita materil yang diderita keluarganya mencapai 30juta rupiah. "Saat ini sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah dan sukarelawan," ujar Mutiara, Senin (28/11).
Namun demikian, Mutiara tetap bersyukur karena seluruh keluarganya selamat dalam peristiwa tersebut. Baginya, ini merupakan anugrah terbesar sebab ada beberapa temannya yang kehilangan keluarganya dalam peristiwa tersebut. Dijelaskan oleh Mutiara, salah seorang temannya yang juga kuliah di UN telah kehilangan ibu dan adiknya dalam bencana banjir tersebut. Temannya itu adalah Nindy, Mahasiswa jurusan Statistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika (FMIPA).
Menurut Mutiara sejak peristiwa banjir tersebut Nindy belum kembali untuk mengikuti perkuliahan di UNP. Belum ada yang tahu bagaimana keadaan pasti Nindy saat ini. "Kita bahkan tidak tahu apakah ia masih akan melanjutkan kuliah atau tidak," ujar Mutiara. Tapi ia tetap memdoakan agar keadaan Nindy segera pulih dan bisa kembali mengikuti perkulihan.
Nofri Hardisal lebih beruntung jika dibandingkan dengan Mutiara dan Nindy. Meskipun juga berasal dari Pesisir Selatan tetapi tidak ada dampak langsung yang diterimanya pasca bencana 3 November tersebut. "Rumah saya terletak agak jauh dari lokasi utama terjadinya bencana," ujarnya Rabu (30/11). Nofri Hardisal yang merupakan mahasiswa jurusan Fisika TM 2009 ini tidak berada di Pesisir ketika bencana tersebut terjadi. Ia mengaku baru mengetahui terjadinya bencana tersebut setelah dikabari oleh orangtuanya keesokan harinya. "Saya sempat mencemaskan keluarga saya ketika mendengar kabar tersebut, tetapi alhamdulillah semuanya baik-baik saja," tuturnya.
Meskipun tidak memberikan dampak langsung bagi dirinya, tapi Nofri tetap merasakan dampak tidak langsung dari bencana tersebut. "Kerusakan berbagai infrastruktur yang ada menyebabkan terhambatnya beberapa aktifitas," ujarnya. Tapi Nofri juga bersyukur karena bebrbagai bantuan telah diberikan untuk para korban yang terkena dampak langsung dari bencana, bantuan juga datang dari universitas tempat ia kuliah. Nofri mengaku melihat beberapa kelompok mahasiswa UNP di lokasi bencana dan ia sangat bangga mengetahui hal tersebut. Ia juga senang dengan adanya kepedulian mahasiswa lain yang menggalang dan di kampus untuk para korban.
Kebanggaan serupa juga diungkapkan oleh Yanti Karmila, mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP UNP yang juga berasal dari Pesisir selatan. "Aksi mahasiswa yang menggalang dan untuk para korban bencana di pesisir selatan tersebut menunjukkan tingginya kepedulian mahasiswa terhadap sesama. Yanti memang tidak terkena dampak langsung dari bencana tersebut, sehingga ia masih bisa melanjutkan kuliahnya degan tenang. Tapi ia mengaku turut berduka untuk para korban dan akan berusaha untuk juga turut membantu dengan cara ikut menggalang dana di kampus. "Meskipun tidak bisa menghilangkan beban para korban, tapi setidaknya bantuan ini bisa sedikit meringankan," tutupnya Kamis (1/12).
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!