Cerpen

Menawar Jemputan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 18 Desember 2011 13:34 WIB • 👁 2.311 Pembaca

Marni Syahara. Gadis desa lulusan sekolah kota. Parasnya seperti perempuan rata-rata. Orang tua bukan orang berpunya. Tapi, nasibnya mujur sungguh luar biasa. Sepulang dari kota, Ia membawa koper baju dan beberapa kardus barang lainnya. Juga seorang pemuda kaya. Tampan pula. Badannya tegap tinggi jumawa. Bujang namanya.

Hari pertama Marni diantar Bujang ke desa, orang-orang terpesona. Di desa Marni, orang hanya mengenal kereta kuda, pedati, becak dan sepeda. Namun, Bujang datang membawa Avanza. Bayangkan saja, bila kau berdiri di sekitarnya, kau akan melihat dirimu di cat mobilnya. Bila kau menyentuhnya, bunyi-bunyi ribut akan terdengar dari dalam mobil. Dan tentu saja, sebagai orang desa yang baru pertama kali mendengar suara-suara seperti itu, kau akan kaget tak dikira, nanar sebentar dengan wajah tanpa dosa, lalu mundur teratur dengan menggamit malu di dada.

Saat mobil di parkir, beberapa orang penduduk yang kebetulan lewat di depan rumah Marni, terpaku dengan pandangan tanpa kedip. Bujang turun pertama, membuka pintu dan menghempaskannya dengan lembut.

Yurni, Ibu Marni demi mendengar suara di depan rumahnya, tersentak. Ia baui bajunya sebentar, setelah memastikan asap tak melekat begitu erat, ia melompat keluar. Nasi yang sedang menggelegak ia tinggal.

"Mak." Marnilah yang pertama kali mengenali ibunya. Ibunya mungkin agak lupa. Maklum, penampilan Marni bukanlah sebagai gadis desa, seperti ketika ia meninggalkan rumah untuk bersekolah ke kota. Tiga tahun lamanya ia tak pulang. Ibu mana yang tak akan pangling. Marni segera memeluk dan mencium pipi ibunya dua kali. Kiri dan kanan. Ibu yang tak terbiasa diperlakukan demikian oleh anak semata wayangnya, menurut saja.

"Kau ini, Marni?" Ibu Marni rupanya belum sadar juga. Ia masih antara bangun-bangun terjaga.

"Iya, Mak. Ini Marni. Siapa lagi kalau bukan anak emak."

"Akhirnya kau pulang juga, Nak." Selapis kaca bening tiba-tiba menutupi mata Mak Marni. Haru menyesak dari dadanya. Anaknya pulang, Mak mana yang tak akan senang.

"Tentu saja, Mak. Bukankah seminggu yang lalu, Marni sudah mengirim kabar kalau Marni akan pulang. Apakah Emak lupa?"

"Makmu ini kan sudah tua, Nak." Ia mengusap-usap wajah Marni, seolah belum yakin, itu Marni, Anak kandung sibiran tulangnya, yang ia harap-harapkan kedatangannya. "Sudahlah, yang penting kau sudah di rumah sekarang. Ayo masuk."

Marni beringsut, menoleh kepada Bujang.

"Mak, ini Uda Bujang." Marni menyampaikan dengan malu-malu. Mak Marni akhirnya tersadar juga.

Bujang, tanpa perlu aba-aba segera mencium tangan Mak Marni sambil menggaris bibirnya dengan senyum. Amboi. Andai masih muda, mungkin Mak Marni akan turut jatuh hati pada Bujang. Namun apa daya, Bapak Marni juga jodohnya. Memang, perkara jodoh, Mak Marni bukan ahlinya.

"Siapa ini, Marni? Laki kau?" Emak terlalu cepat mendebat dan Marni dengan cepat menjawab, bukan. Emak yang ditatap marni dengan mata merayu, akhirnya paham juga. Anaknya bawa pulang calon suami, itu pikir Mak Marni. Apalagi, kalau bukan itu.

"Ayo, Nak Bujang, masuk. Masuk. Jangan sungkan. Marni, bawalah Uda kau tu masuk." Emak gegas. Membawa tas-tas kecil Marni. Bujang, hanya senyum-senyum, salah tingkah.

Bujang, selain teman lelaki Marni, juga anak orang berada. Sebenarnya, orang tuanya tak kaya-kaya benar. Tapi, setidaknya uang sisa belanja bisa untuk membeli rumah bertingkat tiga, mobil dua, sepeda motor dan villa tua. Meski, beberapa diantaranya harus dibayar dengan uang muka. Tapi, boleh dikata Bujang dan orang tuanya adalah keluarga sejahtera.

Suatu hari, Marni bertemu Bujang tanpa sengaja. Tapi, Marni yakin Tuhan sengaja. Waktu itu, Bujang sedang berteduh di sebuah beranda. Marni juga. Hujan lebat tak terkira. Bujang pakai seragam perwira. Mereka bertemu mata berdua. Membuka obrolan tentang hujan yang tak kunjung reda. Lalu berkenalan saling menyalipkan nama dalam senyum merona. Ah, sebuah kisah yang biasa, yang tanpa tanda tanya. Berjadilah mereka bedua.

Bukan, bukan karena Bujang seorang perwira, Marni jadi terpedaya. Kau jangan salah. Cinta melekat begitu saja. Bila kau tatap matanya, lalu hatimu tidak berkata apa-apa dan yang ada hanya getar di dada, maka itulah cinta.

***

Bujang, cerita punya cerita, ada keluarga di kampung sebelah. Marni, waktu kecil sebenarnya sering lewat depan rumah keluarga Bujang. Sekolah Marni berada di sebelah kampung Bujang. Tapi, Marni tak berprasangka apa-apa. Lagipula, Mama Papa Bujang tinggal di kota sejak Bujang kecil. Pulang hanya sekali-sekali. Itupun waktu lebaran saja. Marni juga tak bertemu Bujang saat lebaran, sebab Marni juga bergembira dengan teman-teman sebayanya. Biasanya, satu hari raya, Marni, Yuli, Nisa, Amel sibuk bertandang ke rumah masing-masing. Menambang ke rumah sanak saudara. Mengumpulkan uang seribuan untuk dibawa jajan ke pantai dan pasar raya pada hari kedua dan seterusnya hingga seminggu libur lebaran habis beria-ria ke rumah tetangga dan ke pasar raya.

Bujang ada libur satu bulan. Tersebab itulah ia mengantar Marni pulang kampung. Bujang ingin pula merasakan berlibur di kampung. Menghirup udara pedesaan yang wangi pepohonan, lembut, murni dan menyegarkan.

Sekali tiga hari, Bujang bertamu ke rumah Marni. Ia rajin membawa hadiah. Kadang buah-buahan. Kadang makanan berupa kue-kue. Atau baju, sepatu dan lainnya. Ibarat pemancing, Bujang datang dengan umpan lezat. Mak Marni ikannya. Bila Bujang datang, Mak Marni selalu bilang;

"Wah, Nak menantu sudah datang." Bujang menyerahkan umpan. Mak Marni menerima dengan girang yang tak disembunyikan. Lalu Bujang akan bertanya;

"Marninya ada, Mak?" tentu saja Mak Marni akan memanggil Marni. Prosesi-prosesi semacam ini sudah terjadi beberapa kali. Tapi, tetap saja, tak menimbulkan kebosanan. Perkaranya, Mak Marni selalu mendapat umpan baru dengan adanya kunjungan itu. Bujang, tentu saja ia dapat bertemu Marni, membawanya berputar-putar ke pasar raya, makan-makan dan belanja-belanja. Habis itu pulang. Rutinitas yang biasa, sebenarnya. Tapi, akan selalu baru bila dilakukan dengan orang tercinta, akan selalu menarik.

Berminggu-minggu kemudian, Bujang sudah habis masa liburan. Bujang sudah balik ke kota. Bujang tetap datang bila hari Minggu denga umpan yang sama untuk Emak.

Marni sekarang tinggal di rumah bersama Mak. Menjadi wanita dapur. Bila Bujang datang, Marni bagai kijang lepas ke rimba. Senangnya bukan kepalang.

***

Mak sedang menyapu di halaman saat Bujang datang bertandang. Mobil mengkilapnya sudah berganti warna menjadi hijau muda. Mak menjatuhkan sapunya begitu saja dan lekas menyongsong sang -calon- menantu. Pas sekali. Mak ingin bicara sesuatu yang penting dengan Bujang. Mak sudah tak tahan. Tetangga sudah bosan berkoar-koar. Telinga Mak menjadi panas kalau Tek Mar bertanya;

"Eh, si Marni kapan menikah? Itu suami dapat di rantau ya?"

Belum lagi, Mak Ros, tetua kampung yang berbaik hati mengurus perkara-perkara hangat seperti Bujang dan Marni.

"Kapan bermenantu? Kok sudah hilir mudik saja berdua?" Kali pagi, sepulang shalat subuh dari langgar, Mak Ros sengaja menghantarkan pertanyaan itu ke telinga Mak Marni. Mak mana yang akan tahan, bila anak gadisnya -dan tentu saja, dia- dipanas-panasi seperti itu. Mumpung Bujang datang sore ini, Mak mesti bicara empat mata. Berjelas-jelas perkara status yang belum terang ini hitam putihnya. Mak sekali-sekali ada juga ragunya dengan hubungan Marni dan Bujang. Sekali-sekali, terlintas di pikiran Mak, Marni sudah menikah di kota. Tapi, Mak mana yang mau berpikiran buruk terhadap anaknya. Ia paksakan pikiran-pikiran itu enyah dari kepalanya.

Bujang, sedikit banyak bisa membaca gelagat Mak. Mak tak lagi menyongsong dengan senyum. Hadiah, Mak terima dengan ringan. Tak ada tawa riuh lagi. Bujang pun tak banyak cakap dan tanya. Bujangpun tidak hendak mengajak Marni jalan-jalan petang ini. Bujang juga dengar bisik-usik tetangga dari Marni. Mereka putuskan untuk tidak terlalu akrab untuk beberapa saat.

Mak mengajak Bujang duduk di beranda. Sementara Marni tengah ke Pasar membeli persediaan untuk esok pagi. Biasanya, ikan dan sayuran akan murah bila sore hari.

"Kau betul suka sama Marni, Bujang?" Ah, sebenarnya Mak tak perlu menanyakan itu. Tapi, Mak juga harus memulai ini dengan basa-basi. Bujang mengangguk. Ia sudah dapat membaca kemana arah angin berhembus.

"Mak tidak ingin Marni dipermainkan. Kau tahu kan, Marni begitu suka dengan Nak Bujang. Mak tidak ingin kau kecewakan hati Marni. Apalagi kami orang miskin. Bapak Marni sudah tidak ada."

Bujang diam. Kata-kata Mak menusuk-nusuk otak lunaknya. Kepalanya mendenyut-denyut. "Tak mungkin-lah, Mak. Saya tak hendak mempermainkan Marni. Saya suka Marni apa-adanya.". Saya cinta mati, Mak. Itu saja yang tak terkatakan oleh Bujang.

"Apakah orang tua Nak Bujang sudah tahu tentang hubungan kalian?"

"Sudah, Mak. Orang tua Bujang sudah tahu. Bahkan seminggu yang lalu, Mama sudah ingin bertemu dengan Mak. Mama ingin menanyakan kepastian Marni. Menguatkan kepastian kapan Mak akan datang ke rumah dan menjemput Bujang."

Duarr. Akhirnya petir itu datang juga, tepat langsung ke lubang pendengaran Mak Marni. Mak Marni sudah menduga ini sebelumnya, ia sudah menyiapkan hati. Memang sudah sepatutnya Bujang dijemput bila hendak menjadikan ia menantu. Tapi, tetap saja, ia cemas dan lemas. Hatinya membeku, dingin dan menggigil.

"Menjemput?"

Bujang menatap Mak. "Iya, Mak. Adat kita kan biasanya begitu." Bujang santai saja menanggapi Mak.

"Apa itu harus?" Mak bertanya.

Kini Bujang yang bingung. Tapi, ia jawab juga. "Kalau di Bujang tidak apa-apa. Tapi, mama itu orang lama, Mak. Orang kuat beradat."

"Ah, Bujang. Mana sanggup kami menjemput orang berpangkat seperti Nak Bujang. Nak Bujang tahu sendiri isi dapur kami, kan? Tidakkah Mama Nak Bujang ingin berlunak hati? Toh, jika benar jadi, ia akan milik Nak Bujang jua. Pun akan kembali juga pada Nak Bujang. Bukankah kalian berdua saling suka? Betul, kan? Tolonglah Nak Bujang,"

Bujang diam. Ia juga sudah memikirkan ini jauh-jauh hari. Bagaimana caranya ia bisa jadi dengan Marni dan Mamanya tetap menjalankan adat yang diyakininya. Ia tersenyum. Bukankah jemputan hanya masalah uang dan aku punya cukup banyak, pikirnya. Ia dan Marni akan selamat. Mak tak perlu repot memikirkan soal uang jemputan. Mama juga tak perlu tahu rencananya. Ah cinta, memang perlu cara dan siasat -yang terkadang gila-.

Dinihari di KotaKata, 12042011

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Dedi Supendra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.