Feature

Malam Romansa Rodester

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 18 Desember 2011 12:54 WIB • 👁 1.678 Pembaca

Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah. Tanpa sebuah kemunafikan, Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan. Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu. Tidak berhati. ……. "Bolehkan kami bertanya, apakah artinya bertugas mulia ketika kami hanya terpinggirkan tanpa ditanya, tanpa disapa? Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?

Ketika potongan demi potongan bait puisi Kapan Sekolah Kami Lebih Baik dari Kandang Ayam karya Winarno Surahman itu meluncur deras dari mulut Pembantu Dekan III Fakultas Sastra dan Seni, Drs. Andria Chatri Thamsin, M.Pd., riuh tepuk tangan dan sorak sorai terdengar menggema dari bangku penonton. Diiringi musik, irama dan nada pada setiap kata yang semakin serasi. Andria yang malam itu tampil sebagai pembaca puisi dalam rangkaian acara Pagelaran Bigband Orchestra, Romanza D’Sendranina, Kamis (8/12), di Pendopo FBS berhasil membuat penonton terpukau. Pembacaan puisi semakin hidup dengan adanya seorang pemuda berpenampilan guru dengan sepeda ontelnya, berkacamata bingkai hitam dan tas jinjing berwarna hitam. Pemuda itu terus memperagakan adegan layaknya seorang guru, sembari Andria beraksi di atas panggung.

Alunan musik yang dibawakan personel Rodester (Grup musik mahasiswa progam musik TM 2009) yang berjumlah 111 personel juga turut menambah lengkapnya aklamasi puisi Andria malam itu. Gesekan biola, petikan gitar, dan permainan piano berpadu membentuk alunan indah. Jelang sekitar 10 menit gemuruh tepuk tangan terdengar dari seluruh penjuru Pendopo yang padat oleh penonoton. Pembacaan puisi berakhir. Malam semakin larut, tetapi penonton belum beranjak untuk pulang.

Berbagai kolaborasi bergant-gatian tampil antara dosen dan mahasiswa Jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik TM 2009 itu. Selain musikalisasi puisi, juga ada nyanyian dari berbagai genre, mulai dari minang, pop, dangdut, jazz hingga rock. Beberapa judul lagu yang dimainkan adalah Surek dari Rantau, Bukan Cinta Biasa, This Love, Cindai, Sweet Child o’Mine, Sang Dewi dan banyak lagu lainnya. Di antara lagu yang dinyanyikan tersebut sesekali menampilkan penari latar yang merupakan gabungan antara mahasiswa Sendratasik TM 2008 hingga 2010.

Kemeriahan acara didukung dengan setting-an panggung yang tidak kalah megahnya. Lampu panggung di langit-langit pendopo dengan warna merah, biru dan kuning yang bergantian secara otomatis sebanyak 28 buah, menambah gemerlap suasana di atas panggung. Peralatan konser diatur menjadi dua sisi, sebelah kiri panggung untuk tempat band, piano, keyboard dan gendang, sedangkan sebelah kanan panggung untuk biola. Dibagian belakang panggung terdapat sebuah spanduk dengan ukuran kira-kira 5meterx80cm berwarna merah berisi tulisan berwarna kuning dengan nama kegiatan malam itu.

Salah seorang personel, Hendri Ardianto mengatakan bahwa ia dan teman-teman satu jurusan telah berusaha keras demi terlaksananya kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa latihan telah dimulai sejak awal perkuliahan pada September lalu. Dimulai dari latihan perorangan, berkelompok, kemudian selanjutnya mereka bergabung. "Kebersaman dan perjuangan kami sangat terasa disini," ujarnya, Kamis (8/12).

Ketika ditanya tentang kesannya mengenai acara ini, Hendri mengaku sangat lega, puas, dan sudah mencapai apa yang diharapkan. Meskipun ada kesalahan kecil saat penampilan, tak membuat Hendri dan kawan-kawan kehilangan kekompakan. Dengan pasti, mereka tetap terampil memainkan karya mereka. Selain itu, tambahnya, dengan adanya kegiatan ini mereka bisa belajar untuk tampil lebih berani di hadapan orang banyak. Ia juga mengharapkan acara yang akan diestafetkan kepada angkatan 2010 ini dapat lebih baik lagi dari yang sebelumnya. "Semoga Sendratasik 2010 nanti akan lebih heboh lagi dari ini," harapnya, Kamis (8/12).

Acara yang berlangsung selama empat setengah jam ini pun berakhir pada pukul 23.30 WIB. Pertunjukan diakhiri dengan sebuah lagu khusus ciptaan Pembinaan Kegiatan , Erfan Lubis yang beerjudul Entah Kapan Lagi. Seluruh personel bergabung ditengah panggung dan bernyanyi bersama. Simpul senyum terus mereka ukir sambil bernyanyi seolah tak ingin mengakhirinya. Namun ketika lagu berakhir dan semua personel memberi hormat, tepuk tangan penonton bergemuruh hebat tanda acara usai.

Entah kapan lagi kita dapat bersama begini...

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Jefri Rajif
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.