Unik, itulah kata yang bisa menggambarkan setiap manusia yang ada di muka bumi ini. Tidak ada seorang pun manusia yang mirip satu sama lain walaupun mereka kembar identik. Selalu ada yang berbeda, entah itu fisik, karakter maupun bakat atau kemampuannya.
Begitu banyak hal unik mengenai manusia yang kadang juga tidak diketahui oleh manusia itu sendiri. Sebut saja, William James Sidis. Sidis yang masih bayi berumur 8 bulan sudah bisa menyuap makanannya dengan menggunakan sendok. Bahkan, pada usia yang baru 16 tahun, ia sudah bisa lulus dengan predikat nilai Cumlaude. Tapi sayang, ia tak begitu banyak dikenal. Ia tak terkenal layaknya Einstein. Padahal, ia bisa dikatakan lebih hebat dari Einstein. Mengapa tidak. Lelaki kelahiran New York ini telah mampu membaca harian New York Times saat bulan ke-18 ia dilahirkan.
Ayahnya yang seorang psikolog berdarah Yahudi mengetahui bakat anaknya dan mengembangkan dan membimbing Sidis kecil. Ia berusaha keras untuk menantang sistim pendidikan yang konvensional. Sistim yang telah membiasakan orang-orang untuk bertindak kriminal/kejahatan.
Atas kerja keras serta bimbingan Boris inilah, ketika Sidis berumur 8 tahun ia bisa menguasai 8 bahasa sekaligus. Seperti bahasa Latin, Yunani, Prancis, Jerman, Yahudi, Turki, dan Armenia. Dunia mulai terpana dan mengenal Sidis sebagai anak jenius. Dengan kepandaiannya bisa menulis buku tentang anatomi dan astronomi. Di saat umur 11 tahun ia mendapatkan penghargaan berupa mahasiswa termuda yang menduduki bangku Harvard University. Kekaguman Harvardpun berlanjut akan kejeniusan Sidis yang mampu berceramah dengan menggunakan 200 bahasa asaing mengenai Four Dimensional Bodies di klub matematika.
Usia 17 tahun pada Desember 1915 Sidis mengejar gelar doktornya di Institut William Marsh Rice untuk memperdalam kelimuannya ini yang bertempat di Houston, Texas. Sidis mengajar 3 kelas Euclidean geometri, non-Euclidean geometri, dan trigonometri. Dia frustasi dengan universitas, pengajarannya dan juga perlakuan yang diberikan dari kakak kelasnya. Akhirnya dia keluar dan kembali ke Inggris. Sewaktu sebelum keluar, temannya sempat bertanya kepada Sidis mengapa dia keluar dari sana, Sidis menjawab‘Aku tidak tau kenapa mereka memberiku pekerjaan ini dan menempatkanku sebagai orang spesial, aku sebenarnya tidak layak sebagai dosen. Aku sebenarnya tidak keluar, aku hanya ingin pergi’. Akhirnya dia mendaftar lagi ke Harvard Law School pada September 1916 tapi dia keluar pada akhir Maret 1919.
Ternyata kepintaran Sidis telah membuatnya tersiksa batin. Ia diasingkan oleh teman-teman kampus, tidak memiliki pacar bahkan istripun tak punya seumur hidupnya. Suatu ketika, ia pernah menyampaikan bahwa ia sangat membenci matematika, hal yang pernah membesarkan namanya. Semenjak kefrustasiannya akan lakon hidup yang dijalani, ia memutuskan pergi dari rumah, mengelana dalam kesepian. Hidup terlunta-lunta dengan gaji yang sangat minim.
Karya Sidis, menciptakan sebuah bahasa terkonstruksi disebut Vendergood dalam buku kedua, berjudul Kitab Vendergood yang ditulisnya pada usia delapan tahun. Sebagian besar bahasanya Latin dan Yunani, tetapi juga menarik pada Jerman dan Perancis dan lainnya Romance languages. Akhirnya. orang terpintar di Dunia - William James Sidis, meninggal pada tahun 1944 karena pendarahan otak di Boston pada usia 46 Tahun.
Ismeirita/dari berbagai sumber
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!