Refleksi

"Mahasiswa dan Maha" dalam Bahasa

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 18 Desember 2011 12:33 WIB • 👁 13.977 Pembaca

Kata "mahasiswa" merupakan morfem yang akrab di kalangan warga kampus termasuk penulis -yang juga seorang dosen. Mahasiswa merupakan kaum intelektual, baik yang di pascasarjana maupun yang di program S-1 yang mereka baru saja melewati pendidikan sebagai siswa di sekolah menengah atas. Nah, menurut PP No 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelengaraan pendidikan pasal 1 ayat 29 yang disebut mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi, yaitu sekolah tinggi, institut, dan universitas.

Sekarang yang menjadi persoalan bukan PP-nya tetapi mengapa mereka dinamakan mahasiswa? Mengapa ada kata maha dan siswa? Sekurang-kurangnya ada dua jawaban untuk itu. Pertama, nama satuan pendidikan untuk mahasiswa adalah perguruan tinggi yang artinya tingkatan pendidikan mereka secara formal merupakan yang paling tinggi. Oleh karena pendidikannya sangat tinggi, maka sebutan yang selaras dengan sangat itu adalah maha sehingga disebut mahasiswa.

Kedua, berbeda dengan bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia istilah untuk menamai peserta didik pada setiap tingkat sekolah formal itu memang tidak sama. Pada pendidikan usia dini dan taman kanak-kanak (TK), peserta didiknya dinamakan "anak" maka lazim disebut anak TK. Selanjutnya, peserta didik di sekolah dasar (SD) dinamakan dengan "murid" maka mereka pun dipanggil murid SD, peseta didik di SMP lazim dinamakan dengan "pelajar" maka mereka pun dipanggil pelajar SMP. Peserta didik yang di SMA lazim dinamakan dengan "siswa" sehingga mereka dipanggil siswa SMA. Nah, untuk peserta didik yang terdaftar di perguruan tinggi lazim pula disebut mahasiswa untuk membedakannya dengan siswa. Ini mungkin karena mereka merupakan eks siswa yang masuk pendidikan tinggi. Untuk merujuk peserta didik PT secara umum tidak ada pilihan kata selain "mahasiswa" sehingga mesti disebut mahasiswa.

Kata "mahasiswa" di samping dipakai untuk merujuk makna seluruh mahasiswa, putra dan putri, ternyata maknanya lebih cenderung menunjukkan maskulin. Kata "mahasiswa" lebih mewakili rujukan peserta didik pria dan kata "mahasiswi" sebagai padanannya lebih khusus merujuk pada referen peserta didik wanita. Meskipun demikian dibandingkan dengan kata mahasiswi kata mahasiswa maknanya lebih mendominasi. Bagi yang senang dengan masalah perbedaan gender fenomena itu dapat menjadi data perbedaan pengungkapan gender dalam bahasa Indonesia. Penanda perbedaan gender pada kedua kata itu adalah pada fonem akhirnya, yaitu fonem /a/ menunjukkan pria dan fonem /i/ menunjukkan wanita. Jadi, bila yang disebut mahasiswa seolah-olah yang wanita tidak terwakili sehingga perlu dipertegas dengan mahasiswi. Ketika yang disebut mahasiswi jelas pula yang pria tidak ikut serta. Dengan demikian, kata-kata yang berpotensi mempunyai pengakhiran dengan fonem /a/ dan /i/ diprediksi menunjukkan perbedaan gender seperti: siswa-siswi, putra-putri, dan pemuda-pemudi.

Implikasinya, untuk lebih spesifik dalam berbahasa kedua kata itu harus digunakan. Misalnya, kita mengharapkan mahasiswa dan mahasiswi harus berpakaian sopan ke kampus, maka keduanya pria dan wanita harus diperhatikan. Jika dikatakan, "Mahasiswa harus berpakaian sopan ke kampus.", bisa jadi yang mahasiswi mempersepsi dirinya tidak diikutkan. Oleh karena itu kalimat itu perlu dipertegas, "Mahasiswa dan mahasiswi harus berpakaian sopan ke kampus!"

Selain itu, jika dicermati dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada banyak kata yang didahului oleh kata "maha" selain kata mahasiswa, di antaranya: mahaduta, maha esa, mahaguru, mahaprana, mahapatih, maharaja, mahadewi, maharani, dan maharupa. Dari kata yang didahului oleh kata maha itu sebagian merupakan kata yang sudah tidak populer lagi. Misalnya "mahaguru" untuk menyebut guru besar sudah jarang dipakai karena orang sekarang lebih gandrung memakai kata profesor.

Tetapi, sebagian kata yang lain masih eksis terutama yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah. Ini menunjukkan bahwa selain dalam ranah pendidikan dan kerajaan, kata "maha" banyak kita jumpai pemakaiannya dalam ranah keagamaan. Sebagai contoh saat kita mendengar terjemahan basmalah ke dalam bahasa Indonesia maka penerjemahnya menyebutkan kata-kata, "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". Arti maha pada susunan kata "maha pemurah’ adalah ‘amat sangat’ atau ‘tidak ada tandingan’. Dengan demikian juga tersirat makna, satu, esa, atau tunggal sebab kalau ada tandingan berarti belum maha.

Ketika penulis berdiskusi tentang pemakaiann kata maha dengan mahasiswa di kelas, salah seorang di antara mereka menyela. Katanya, "Saya setuju dengan penggunaan kata maha seperti yang kita diskusikan sebelumnya, tetapi saya meragukan ketepatan pemakaian maha pada kalimat "tuhan yang maha esa". Katanya, "Tuhan atau Allah kita itu adalah esa atau satu atau tunggal. Jadi, untuk menyatakan yang yang satu atau esa tidak perlu dengan kata "maha" cukup disebut dengan Allah Yang Esa. Jika, pada "maha pengasih" kata maha digunakan untuk menunjukkan ‘yang amat sangat’ dan ‘tidak ada tandingan’ sehingga mengarah pada pengertian ‘satu-satunya yang amat pengasih" maka secara logis kita sepaham dengan itu. Sebaliknya kata ‘yang esa’ atau ‘yang satu’ jelas tidak memerlukan lagi kata maha, cukup disebut Tuhan Yang Esa atau Allah Yang Esa. Begitulah mahasiswa berpikir dengan kritis mengomentari pemakaian kata maha.

Dosen Prodi Pend. Bhs. Ind. FBS UNP Padang.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Abdurahman
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.