Politik

Perang Politik Dan Sebuah Konspirasi

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 18 Desember 2011 12:20 WIB • 👁 2.023 Pembaca

Kampus sebagai salah satu center of intellectuality memberikan ruang bagi berkembangnya berbagai ranah pemikiran, mulai dari yang condong kekiri (Liberal), atau yang condong kekanan (Fundamental). Namun, banyak juga yang berpemikiran moderat yang tidak berpikiran kekiri atau kanan, bisa dikatakan sebagai golongan yang adem ayem. Tapi itu hanyalah sebagian perspektif berfikir yang timbul di kalangan mahasiswa baik secara individu maupun kelompok karena kampus merupakan mimbar kebebasan untuk mengekspresikan setiap wacana pemikiran yang timbul.

Terlepas dari aspek pemikiran setiap individu mahasiswa, ada isu pokok yang biasanya setiap tahun kita temui dalam ranah kampus, yaitu Kongres mahasiswa dan Pemilihan raya. Kedua even tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengeluarkan pandangan politik mereka secara bebas dan belajar bagaimana cara mewujudkan demokrasi yang baik. Disinilah peran mahasiswa untuk membangun kampus agar lebih dinamis dan juga merupakan tujuan dari regenerasi kepemimpinan untuk menciptakan ruang kondusif bagi demokratisasi kampus. Peran aktif mahasiswa dalam hal ini berpengaruh besar terhadap kemajuan kampusnya. Hal ini juga yang membuat kata mahasiswa bukan sekedar penyandang gelar "maha" yang membedakannya dengan pelajar-pelajar lain.

Bila dilihat peta politik kampus yang kian memanas, dimana setiap kelompok memainkan perannya masing-masing bahkan saling adu strategi politik sampai kepada politik praktis. Hingga akhirnya siapa yang lebih matang perencanaan dan pergerakannya maka merekalah yang memegang singgasana birokrasi kelembagaan. Dengan memobilisasi massa yang banyak dan pencitraan yang baik, maka itu merupakan suatu bentuk strategi perang yang sebagian masih menjadi andalan dari kelompok-kelompok tertentu. Namun hal tersebut tidak selamanya bisa terus bertahan. Selalu ada istilah revolusi, dimana orang-orang menuntut perubahan terhadap sistem yang ada dan pergerakan kampus akan selalu lebih dinamis dari sebelumnya, jadi tidak menutup kemungkinan dengan adanya kelompok yang bisa saja mempunyai teori tersendiri untuk bisa mematahkan dominasi atau status quo dari penguasa sebelumnya tersebut. Kelompok ini biasanya muncul karena mereka merasa kurang puas dengan kepemimpinan sebelumnya atau karena ingin ikutan eksis atas dasar kepentingan kelompok belaka.

Hegemoni diktatokrat yang dibangun sebelumnya tidak beda jauh dengan sistem monarki keberpihakan di era orde baru. Dimana,jika ada yang menentang bisa langsung dikucilkan atau dicampakkan dari keanggotaan. Ini merupakan sebuah polemik dimana hanya kelompok tertentu yang mendominasi setiap peran penting yang ada, sebuah realita yang sering terjadi dijajaran kampus. Bahkan hal ini juga berimbas kepada suatu ketidakseimbangan tatanan masyarakat kampus. Kampus menjadi terkotak-kotak pada beberapa golongan. Bisa dilihat pada perekruitan suatu Organisasi Mahasiswa (ormawa), dimana mereka (anggota yang lulus) dalam ormawa tersebut hanyalah orang-orang yang telah menjadi rekomendasi/orang-orang yang telah kenal dekat dengan anggota ormawa sebelumnya tersebut. Hal ini membuat suatu sistem organisasi tersebut kaku, yakni program-programnya hanyalah kelanjutan dari program sebelumnya, tidak ada perubahan atau bahkan mungkin perbaikan. Lalu bagaiman suatu organisasi tersebut bisa berkembang bila sistem seperti itu tetap dipertahankan?

Berbagai cara dipakai untuk meloloskan kepentingan tersebut, hingga memanfaatkan issue yang bisa menjatuhkan lawan. Contohnya dengan memunculkan kembali masalah yang telah lalu, seperti kesalahan yang pernah dilakukan oleh kelompok tertentu bahkan sampai kepada fitnah. Dengan memanfaatkan lobi, beberapa oknum bisa saja mempengaruhi perspektif/pandangan seseorang bahkan sekelompok orang terhadap hal tersebut. Namun kadang kala strategi yang dipakai itupun mempunyai kelemahan, yaitu ketika kebersamaan untuk membuat perubahan dengan saling menyatukan ideologi dan idealisme melahirkan sebuah perlawanan dalam bentuk strategi konspirasi, dimana dibangunnya suatu koalisi serta penyatuan setiap elemen mahasiswa bisa dijadikan sebagai kekuatan awal yang dibangun untuk memecah peta politik yang sudah diprediksikan oleh sebagian pemerhati kampus tersebut . Intinya adalah, pemikiran kritis, dinamis, dan kreatif lah yang mampu membuat perubahan pada suatu sistem kaku yang dibentuk beberapa oknum tersebut. Seperti sebuah ungkapan "no change, no future".

Menyatukan sebuah gagasan dan sampai kepada suatu perlawanan yang dibuat melahirkan sebuah sejarah baru dan membuktikan bahwa perubahan pasti akan terjadi dimana kaum pelopor membuktikan eksistensi mereka belum mati bahkan kian bersatu. Bahkan ada istilah yang mengatakan "ideas are the moving forces of history" (gagasan adalah sebuah tenaga penggerak dalam sejarah). Kesepahaman yang dibangun dengan suatu tujuan yang murni untuk melihat perubahan menjadikan suatu kekuatan tersendiri dan bentuk kepedulian kampus sehingga apa yang dicita-cita kan bisa terwujud. Apalah arti suatu keberadaan mahasiswa, tanpa sesuatu yang diperbuatnya untuk perubahan civitasnya?

Hal inilah yang menguji setiap mahasiswa siap membesarkan kampus bukan membesarkan kaumnya masing-masing. Idealisme kampus harus dibangun ketika kita berada di dalam kampus. Meminjam kata-kata senior saya yang juga merupakan guru spiritual bagi saya dan teman-teman," jangan kalian bertanya apa yang sudah kampus berikan kepada kalian tetapi bertanyalah apa yang sudah kalian berikan terhadap kampus". Kata-kata ini memiliki nilai filosofis dimana kita haruslah bermanfaat bagi kampus. Tanyakan kepada diri kita sendiri apa yang sudah kita lakukan demi kepentingan kampus bukan pribadi dan kelompok, serta prestasi apa yang telah kita capai selama ini. Tanpa memperhatikan kita dari ormawa mana, dari forum, bahkan komunitas mana, yang diutamakan adalah kita satu jaket kuning!.

Setiap orang harusnya menyadari betapa penting dan berpengaruh setiap unsur yang ada di dalam sebuah sistem, entah pegawai, dosen, mahasiswa, pejabat, sumberdaya, fasilitas dan lain sebagainya. Ketidakseimbangan akan terjadi ketika ada bagian yang terabaikan. Namun, apakah setiap unsur yang ada di dalam sistem sadar akan keberadaanya? Adalah satu tanggung jawab ketika seseorang diberikan amanah untuk menjalankan fungsi sebagai aparatur, apalagi pemimpin untuk menjalankan fungsinya sebagaimana yang diharapkan orang lain kepadanya. Bukan seperti apa yang ia atau sekelompok orang saja, tapi semua orang.

Pada dasarnya hakikat hidup seseorang akan sangat bermanfaat apabila ia mampu memberikan apresiasi, baik gagasan ataupun tindakan yang mampu membantu dan memberikan manfaat besar kepada orang lain. Ada sebuah ungkapan yang menarik yang mengatakan, "Keberadaan manusia di dalam sebuah sistem memiliki hukum yang kurang lebih seperti fikih ibadah. ada manusia keberadaanya di dalam sistem adalah Wajib, ada yang Sunnah, Makru, Mubah dan Haram." Nah kita masuk dalam kategori yang mana ?

Mahasiswa Pendidikan Fisika TM 2009

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Dwi Utari Kusuma
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.