"Wartawan tidak cukup hanya memiliki skill saja, wartawan baru dikatakan profesional jika ia memiiki moral." (Maimun Saleh, Ketua MJC)
Tak ada yang menyangka jika dibalik ruko di Jalan Iskandar, Banda Aceh itu, sosok-sosok calon jurnalis dari Aceh ditempa hingga menjadi wartawan handal dan bermoral. Penempaan tak dilakukan dengan modal sarana mewah dan teknologi berkualitas tinggi. Namun, penempaan yang berlangsung selama enam bulan itu dilakukakan dengan tekad dan semangat tinggi dari pengajar dan pelajarnya. Itulah Muharram Journalism College (MJC), satu-satunya sekolah jurnalistik di Aceh yang dibentuk atas kepedulian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Aceh terhadap kemampuan dan keprofesionalan wartawan di masa mendatang.
Memasuki ruko berlantai tiga ini, yang tampak bukanlah sebuah ruangan yang dilengkapi alat-alat yang mengindikasikan adanya kehidupan jurnalistik di dalamnya. Tak ada kamera-kamera yang biasanya digunakan para wartawan TV untuk merekam sebuah kejadian. Mesin-mesin percetakan yang digunakan untuk mencetak sebuah koran juga tak tampak. Di lantai dasar ruko ini, yang ada hanyalah sederetan komputer yang telah dilengkapi dengan fasilitas internet. Layaknya sebuah warung internet, komputer-komputer ini memang disewakan untuk menambah kas pendanaan MJC. "MJC hanyalah sekolah yang didirikan AJI Aceh, jadi kami harus berpandai-pandai dalam pendanaan agar sekolah ini tetap bertahan," ungkap ketua MJC, Maimun Shaleh, Selasa (13/9).
Menurut Maimun, pelajar MJC biasanya berasal dari berbagai macam kalangan yang tertarik dengan jurnalistik. Kebanyakan dari mereka merupakan mahasiswa yang tergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa. Beberapa lainnya adalah wartawan pemula. Untuk bergabung dengan MJC, peserta dikenakan administrasi sebesar Rp. 300.000. Namun, beasiswa juga diberikan kepada bebarapa pelajar. Setelah enam bulan menjalani pendidikan di MJC, peserta diberikan ijzah..
Meskipun hanya berskala lokal, namun sistem pengajaran di MJC dilakukan dengan konsep yang jelas. Staf pengajarnya terdiri atas tiga level, yaitu wartawan lokal, nasional dan internasional. Untuk wartawan lokal dan nasional didatangkan dari para wartawan yang bergabung di bawah naungan AJI. "Sementara untuk wartawan Internasional, AJI memanfaatkan koneksi yang ada dengan berbagai media cetak dan online di luar Indonesia," tutur Maimun yang juga tercatat sebagai wartawan di salah satu media di Jepang ini.
Pembuatan berita di MJC lebih diajarkan kepada jurnalisme damai. Dalam jurnalisme damai, seorang reporter dituntut untuk mengenal konflik dan mengetahui resolusi dan manajemen dari konflik tersebut. Hal ini dimaksudkan agar pembuatan berita sesuai dengan fakta dan tidak memihak pada salah satu pihak yang terlibat dalam berita tersebut. Dengan demikian tidak ada satu pihak pun yang teraniaya dari pemberitaan yang dibuat. Para calon jurnalis juga dididik untuk tidak menerima suap dalam pembuatan berita. "Sehingga tidak ada salah satu pihak yang dirugikan dalam pembuatan berita tersebut," kata Maimun.
Selain itu, MJC membagi jurnalistik menjadi tiga bagian: cetak, televisi dan radio. Hal ini dimaksudkan agar murid-muridnya bisa fokus dalam mempelajari bidang jurnalistik yang diminatinya. Menurut Maimun, seorang wartawan benar-benar harus menguasai bidang jurnalistik yang digelutinya. Selain mencoba menanamkan skill, orang-orang yang bergabung di MJC juga dibiasakan dengan diskusi yang membahas isu-isu baru yang berkenaan dengan jurnalistik dan HAM. Dalam diskusi-diskusi inilah para pengajar AJI mencoba menanamkan pentingnya moral bagi seorang wartawan. "Jika mengandalkan skill saja, maka jurnalis tidak akan pernah berkembang," ujar Maimun yang juga ketua MJC, Selasa (13/9).
Tak hanya berkutat dengan teori, siswa MJC juga dituntut untuk membuat sebuah karya akhir setelah lima bulan pembelajaran. Karya akhir disesuaikan dengan bidang yang mereka pilih. Misalnya saja, sebuah film dokumenter bisa dipilih sebagai karya akhir bagi peserta yang bergabung di bagian televisi. Tak hanya itu saja, mereka pun harus megikuti pemagangan dengan menjadi wartawan di media-media lokal yang ada di Aceh. "Dengan adanya MJC ini, diharapkan lemahnya pergerakan Aceh dalam bidang jurnalistik bisa sedikit teratasi," tutup Maimun.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!