Pusat Jasa Ketenagakerjaan ( PJK)UNP dulunya dibentuk dalam usaha peningkatan kerja sama dan pusat informasi bagi para lulusan untuk mencari pekerjaan. Sekarang PJK tidak terdengar lagi keberadaannya
Tak ada tanda-tanda kehidupan yang terasa kala mendekati sebuah ruangan di pojok lantai satu Perpustakaan Pusat UNP, Sabtu (22/10). Siang itu, tak terlihat satu orang pun yang menyambangi tempat bernama Pusat Jasa Ketenagakerjaan (PJK). Mencoba mengintip dari luar, ruangan tersebut seperti telah lama ditinggal pergi pemiliknya. Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu, terlihat satu set komputer, satu set kursi tamu, dan satu lemari berisikan buku-buku yang kurang tertata rapi. Selain itu, di kaca jendelanya terdapat dua lembar kartu kuning, kartu yang wajib dimiliki oleh para pencari kerja. Sejurus, kartu kuning tersebut seolah menjadi saksi bisu yang mengabarkan apa fungsi dari PJK itu sendiri. Juga, kesunyian yang menggerogoti ruangan PJK tersebut seolah mengindikasikan ketidaktahuan PJK di kalangan mahasiswa. Seperti yang dikatakan Juwita, mahasiswa jurusan Kepelatihan Olahraga TM 2010. Ia mengaku tidak sedikitpun mengetahui tentang PJK. Hal senada juga disampaikan wisudawan/ti mahasiswa Kimia TM 2006. "Mendengar namanya juga baru sekarang," ujar salah seorang sumber Ganto.
Memang, PJK yang sudah berdiri sejak 15 tahun silam mengalami mati suri pascagempa 2009 lalu. "Gedung lama yang berada dekat BAAK dulu sudah rusak parah," jelas Ketua PJK UNP, Drs, Jasman, M.Kes, Sabtu (22/10). Tak hanya itu tambah Jasman, kendala yang dihadapi PJK adalah kurangnya sumber daya manusia yang mengelola PJK. Sekretaris yang saat ini dijabat oleh ibu Ratminada sedang mengambil S3, dan ditambah lagi dengan Ketua Bidang Kerja Sama yang sudah meninggal dunia yaitu Bapak Drs. Maizul M.Si Kons. "Saya sebagai ketua, merasa sulit menjalankan program-program yang akan dijalankan," keluhnya. Walaupun demikian, ia berencana dalam beberapa minggu ke depan akan menemui PR III untuk membuat atau merancang kepengurusan yang kosong saat ini. Selain itu, Jasman juga mengatakan kurang berjalannya PJK di karenakan minimnya sosialisasi kepada mahasiswa. Namun, ia optimis setelah kepengurusan baru terbentuk, sosialisasi kepada mahasiswa akan lebih digencarkan. "Kita akan berusaha untuk tetap berdiri dan eksis ke depannya."
Cerita Jasman, sebelum gempa 2009, PJK sangat eksis. "Usai wisuda, maka kantor PJK akan dipenuhi oleh mahasiswa yang akan mengurus kartu kuning, serta mendaftar pelatihan-pelatihan yang akan diadakan." Memang, melihat dari fungsinya PJK merupakan unit terpenting dalam sebuah universitas karena menyangkut bagaimana masa depan lulusan UNP. Tujuan PJK sendiri adalah untuk membantu dan meringankan para calon wisudawan/ti dan para alumni dalam hal dunia kerja. "Mereka tentu akan merasa tertolong dengan PJK ini." Jas menjelaskan tugas PJK adalah membantu para calon wisudawan/ti untuk mendapatkan pembekalan sebelum turun ke dunia kerja. Dalam hal ini, PJK memberikan pelatihan-pelatihan bagi para calon wisudawan/ti, seperti pelatihan kewirausahaan, pelatihan kiat-kiat mencari pekerjaan. "Serta pelatihan TOEFL yang merupakan kerja sama antara PJK dengan Balai Bahasa." Tak hanya itu, para wisudawan serta alumni bisa mendapatkan informasi tentang dunia kerja dari PJK. PJK juga bekerja sama dengan Depnaker dalam pembuatan kartu kuning. sehingga para wisudawan/ti tidak perlu bersusah payah untuk membuat kartu kuning ke kantor Depnaker di daerah masing-masing. "Proses pembuatan Kartu Kuning sendiri sangat mudah, mahasiswa tinggal datang ke kantor PJK dan langsung akan diberikan kartu kuning," tutup Jasman.
Santi/Afdal/Meri
Laporan : Yudhi, Duni*, Rita*
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!