Dewasa ini, gerai-gerai fast food (makanan cepat saji) sudah menjamur di mana-mana. Hal tersebut diindikasikan dengan mudah dijumpainya gerai tersebut di berbagai kawasan strategis terutama di daerah perkotaan. Penikmatnya pun beragam, mulai dari anak-anak, remaja, orang tua hingga lanjut usia. Hal ini dikarenakan makanan cepat saji seperti KFC, CFC, AW, Pizza Hut dan sejenisnya memiliki beberapa kelebihan, antara lain penyajiannya cepat, bercita rasa enak, dan dibandrol dengan harga murah. Selain itu, sebagaimana kita ketahui, tuntutan jam kerja yang cukup tinggi membuat masyarakat urban tidak mempunyai waktu yang cukup untuk membuat makanan sendiri di rumah, akhirnya pilihan pun berlabuh ke makanan cepat saji tersebut.
Peminat tidak menyadari bahwa fastfood atau yang lebih sering dijuluki junkfood ternyata tidak sehat untuk dikonsumsi. Junk food sendiri dalam Bahasa Indonesia berarti makanan sampah. Istilah junk food dilabelkan pada fastfood karena menurut penelitian para ahli, fast food memiliki kadar lemak yang tinggi serta memiliki zat tambahan yang berbahaya seperti Monosodium Glutamat (MSG), pengawet, dan lain-lain. Adapun bahaya MSG atau yang lebih dikenal dengan penyedap rasa antara lain memicu reaksi gatal, bintik merah di kulit, mual, muntah, sakit kepala, migren, asma, gangguan hati, ketidakmampuan belajar dan depresi. Sedangkan pengawet seperti Kalium Asetat, dapat menimbulkan kerusakan fungsi ginjal.
Perlu diketahui juga bahwa daging yang menjadi bahan baku makanan junk food tersebut bukanlah dari kualitas yang baik. Daging isian pada burger misalnya, umumnya 50 persen terdiri atas lemak. Sebagai perbandingan, kandungan lemak pada daging ,umumnya 75 mg /100 gram. Sedangkan kandungan lemak pada fried chicken misalnya, berkisar 20-25 gram / 100 gram. Beberapa lemak bahkan bersifat karsinogen. Dimana, karsinogen merupakan bahan-bahan yang dapat menyebabkan kanker.
Pada umumnya, menu fast food mengandung lebih tinggi kalori, garam dan lemak, termasuk kolesterol, dan hanya sedikit mengandung serat. Kalori adalah ukuran untuk energi yang didapat tubuh dari makanan yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak. Setiap gram karbohidrat dan protein memberikan kurang lebih 4 kalori energi, sedangkan dari 1 gram lemak diperoleh hampir 9 kalori. Kebutuhan akan kalori ini umumnya berbeda-beda pada tiap orang, tergantung dari usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas seseorang. Kekurangan kalori merupakan salah satu penyebab menurunnya aktivitas. Sebaliknya kelebihan kalori akan menambah berat badan dan menyebabkan kegemukan. Itulah kenapa, seseorang yang sering mengkomsumsi makanan fast food akan mengalami obesitas.
Menurut riset terbaru, makanan dengan kandungan lemak tinggi, tetapi nilai gizi nol ini dapat merusak sel-sel dalam otak yang mengendalikan berat badan, dan memicu siklus obesitas. Temuan ini juga memberikan penjelasan mengapa orang yang kegemukan begitu sulit menurunkan berat badan. Dalam penelitiannya, para ahli dari Universitas Washington memberikan tikus-tikus di laboratorium dengan jenis makanan yang mereka sebut dengan "diet lemak tinggi orang Amerika". Hanya berselang tiga hari, tikus-tikus ini semakin rakus dan meningkatkan asupan kalorinya hingga dua kali lipat.
Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa tikus-tikus ini juga mengalami inflamasi atau peradangan pada hypothalamus. Hyphothalamus adalah bagian otak yang terdiri dari sel-sel saraf yang mengendalikan berat badan. Peradangan ini sempat berhenti dalam beberapa hari, tetapi kemudian "kambuh" lagi setelah empat pekan kemudian.
Tak hanya itu, seabrek penyakit akan berdatangan akibat sering mengkonsumsi fast food terutama dalam jangka panjang. Sebut saja diabetes. Beberapa junk food mengandung banyak gula, terutama gula buatan.Gula tersebut tidak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan diabetes. Minuman bersoda, cake, dan cookies mengandung banyak gula dan sangat sedikit vitamin serta mineralnya. Minuman bersoda mengandung paling banyak gula, sedangkan kebutuhan gula dalam tubuh tidak boleh lebih dari 4 gram atau satu sendok teh sehari
Selanjutnya, fast food bisa mengikis kecerdasan seseorang. Peneliti menjelaskan bahwa ketika seseorang khususnya anak-anak mengkonsumsi makanan tinggi kalori yang rendah nutrisi (nutrisi ini berupa asam lemak sehat, vitamin, dan mineral), otak mereka tidak mendapat senyawa yang dibutuhkan untuk berkembang dan berfungsi sempurna. Beberapa efek yang mungkin timbul dari hal ini diantaranya kemampuan kognitif, tingkah laku, dan kemampuan sosial yang kurang. Selain itu, berdasarkan riset yang dilakukan junk food bisa menyebabkan kerusakan permanen pada otak
Selain itu, fast food ternyata mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Fast food merupakan hasil pemikiran panjang dari budaya efisiensi waktu dan kepuasan instan. Masalahnya adalah bahwa tujuan untuk menghemat waktu merupakan pemicu tindakan tidak sabar dan tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu, " jelas seorang peneliti, Chen-Bo Zhong.
Pendek kata, ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk menghindari serta mencegah diri dari makanan fast food tersebut. Sebagai tindakan preventif, bisa dilakukan dengan mengurangi konsumsi makanan siap saji, meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan serta mengkonsumsi vitamin. Beberapa vitamin diduga mengandung zat pencegah karsinogen adalah vitamin A,C,E banyak terdapat dalam sayur dan buah asam folat terdapat dalam brokoli, bayam dan asparagus: vitamin B3, vitamin D dalam bentuk aktif terdapat pada mentega, susu, kuning telur hati, beras dan ikan. Kemudian, memberi pengertian pada keluarga tentang bahaya zat aditif, mengawasi, mengontrol pemberian dan penggunaan uang jajan dan membiasakan membawa bekal makanan sehat dari rumah.
Selain itu, efek samping dari makanan fast food bisa diminimalisir dengan memakan alpukat. Alpukat bisa menurunkan kolestrol hingga 8,2 persen, sedangkan makanan tak berlemak hanya 4,9 persen. Hebatnya lagi, alpukat mampu menstabilkan kadar kolestrol HDL (kolestrol baik) karena mengandung zat monounsaturated (semacam lemak ringan) sama dengan asam lemak pada minyak zaitun. Daun alpukat mengandung alkohol yang dikenal sebagai peluruh air seni. Bijinya bisa dimanfaatkan untuk menurunkan kadar gula. Kandungan zat besi pada alpukat juga memiliki manfaat bagi tubuh. Di dalam tubuh zat ini berfungsi sebagai pigmen pengangkut oksigen dalam darah. Oksigen diperlukan untuk menormalkan fungsi seluruh sel tubuh.Cara pemanfaatannya dapat dimakan langsung atau dibuat jus. Untuk jus, pilih jenis alpukat berdaging dan tebal dengan sedikit campuran gula.
Sedangkan produsen, bisa meminimalisir efek fast food dengan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap penggunaan zat aditif pada bahan pangan yang diproduksi, serta memberikan informasi yang jelas komposisi makanan termasuk zat aditif yang ditambahkan. Diharapkan juga, pemerintah melakukan pengawasan dan menindak tegas produsen yang melanggar aturan yang berlaku. Kemudian, bagi Non-Pemerintah (LSM), mendorong peran serta masyarakat sebagai pengawas kebijakan publik, melakukan pengawasan dan bertindak sebagai pembela konsumen.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!