Hipokinetik (kurang gerak) merupakan istilah dalam dunia kedokteran yang mengacu pada suatu gejala penyimpangan mental yang ditandai dengan kepasifan gerak dan respon pada individu penderitanya. Kondisi ini jika tanpa diimbangi dengan aktifitas fisik akan menimbulkan penyakit akibat kurang gerak.
Jika diimplikasikan pada kehidupan biasa, hipokinetik bisa diartikan sebagai karakter atau kebiasaan seseorang yang malas untuk melakukan sesuatu, baik itu menyelesaikan masalah atau pun mencoba hal-hal yang baru. Pada akhirnya, kehidupan mereka bersifat monoton atau diam di tempat (statis). Hidup mereka seperti layaknya air mengalir, tenang dan damai. Tidak ada keinginan untuk menjadi lebih diantara mereka.
Terkait dengan kata monoton, kebiasaan banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari segi budaya, lingkungan atau keadaan alam Indonesia sendiri. Wilayah Indonesia yang termasuk dalam wilayah tropis, dengan dua musim (musim hujan dan kemarau) membuat bermacam-macam tumbuhan dapat tumbuh subur. Ditambah lagi dengan kandungan alam Indonesia yang cukup menggiurkan. Tidak hanya tanah yang subur namun juga menyimpan kekayaan hasil tambang yang cukup besar.
Dengan kekayaan yang seperti itu, sudah seharusnya masyarakat Indonesia mampu mengolah dan memanfaatkannya demi kesejahteraan mereka sendiri. Namun kenyataannya tidak, mereka lebih banyak bertopang dagu "menunggu" datangnya peluang. Dari segi sektor pertambangan saja, banyak negara asing yang mengambil peluang untuk mengolah kekayaan alam Indonesia. Manajemen pengelolaan diserahkan kepada warga negara asing dan masyarakat Indonesia hanya mampu bekerja sebagai buruh atau pegawai rendah di tempat tersebut. Pada akhirnya, warga negara asing yang menikmati kekayaan negara ini dan kita sendiri tidak kebagian apa-apa, seperti yang terjadi pada PT. Freeport.
Gaya hidup yang monoton ini bertambah ketika mereka enggan untuk melakukan sesuatu yang baru. Keengganan ini terjadi karena alasan takut dan malas untuk memulainya. Ini terjadi karena pola pikir masyarakat Indonesia yang telah membudaya yakni untuk selalu mencari pilihan dan posisi yang aman. Mereka tidak mau mengalami kegagalan atau kerugian yang besar. Pada dunia bisnis saja, hanya sedikit generasi muda yang berminat mencoba untuk terjun langsung ke dunia kewirausahaan atau bisnis. Mereka lebih memilih menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan alasan masa depan lebih terjamin. Padahal prospek ke depan di dunia wirausaha lebih besar dari pada PNS, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Jika saja pemikiran masyarakat Indonesia sudah tergerak untuk aktif di dunia wirausaha, bukan tidak mungkin masalah kemiskinan dan pengangguran di negara kita tercinta ini akan terselesaikan.
Memang sulit untuk merubah kebiasaan ini. Namun tak ada sesuatu yang tak mungkin di dunia ini jika mau melakukanya. Dengan memulai untuk membangun pemikiran bahwa hasil maksimal akan didapatkan jika berusaha dengan sungguh-sungguh, maka akan menanamkan pemikiran bahwa hasil yang baik dan memuaskan tidak akan pernah datang secara instan. Sehingga diharapkan akan tumbuh kebiasaan untuk bekerja keras.
Mahasiswa Kimia TM 2010
Komentar & Tanggapan Pembaca (1)
kooook tentang hipokinetik nya sedikitÂÂ