Puisi

Sajak Ganto Edisi 163

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 2 Oktober 2011 01:03 WIB • 👁 1.843 Pembaca

Sang Marrionette

inilah aku

teronggok diam di sudut ruangan

menanti tuanku datang

oooh

dia sudah datang

menghembuskan nyawa padaku

ya, aku menari dan berputar

serta meloncat-loncat

mengikuti gerakan yang diperintahkan oleh tuanku

hanya ekspresi senyum yang ad

a di wajahku saat menangis saat marah saat kecewa hanya ada senyuman di wajahku

Agusmanto; Sastra Indonesia dan daerah TM 2005


Demi dan Untuk Hari Ini

Celah - celah dinding dihujani peluru sinar


Menembus retina sayu

Kuhamparkan kertas putih di meja

Torehan tinta kelam menari dipermukaannya

Kursi tua berderik saat diduduki si rapuh

Mengeluh,…..

Tapi apa boleh buat,… beginilah adanya

Demi dan untuk hari ini

Mardho Tilla; Mahasiswa Kimia TM 2010

Hujan Paruh Kedua

Kata setetes hujan di tengah malam; aku tak lagi perwakilan Tuhan.

Ini aku, hatimu.

Sembunyikan aku dari para penyamun

Aku tergagap; rinai bisa bicara!


Terburu-buru kau menyela; Jual aku pada sepasang malam.

Titipkan aku di ceruk purnama

Sungguh, badan ini sudah tak muda

Kau terbatuk-batuk, Lihat, sepertinya kau butuh selimut untuk istirahat,

Dedi Supendra; Mahasiswa Teknologi Pendidikan TM 2008


Kritik Puisi

Puisi dan Ekspresi Diri

Zulfadhli

Puisi merupakan sebuah fenomena dan produk sosial. Hal ini bermakna bahwa yang terlihat di dalam puisi adalah sebuah entitas masyarakat yang bergerak, baik yang berkaitan dengan pola struktur, fungsi, maupun aktivitas dan kondisi sosial budaya sebagai latar belakang kehidupan masyarakat pada saat karya tersebut diciptakan. Puisi merupakan salah satu media yang menggambarkan kehidupan dengan mengangkat masalah sosial dalam masyarakat. Persoalan sosial tersebut merupakan tanggapan atau respon penulis terhadap berbagai fenomena yang ada di sekelilingnya, sehingga dapat dikatakan bahwa seorang penyair tidak bisa lepas dari pengaruh sosial budaya masyarakatnya.

Berbagai fenomena dan realitas sosial yang terjadi diekspresikan oleh penyair dalam puisi. Fenomena tersebut dapat dijadikan sebagai ide di dalam penulisan puisi. Hal tersebut tampak dalam puisi-puisi yang dipublikasikan Ganto edisi kali ini. Puisi Sang Marionette yang ditulis oleh Agusmanto menyuguhkan sesuatu tentang sosok aku yang tidak dapat berbuat apa-apa ketika berhadapan dengan seseorang yang disegani (atasan atau pimpinan). Inilah aku// teronggok diam di sudut ruangan// menanti tuanku datang//. Larik ini menggambarkan bahwa si aku hanya bisa terdiam terpaku menunggu kedatangan atasannya. Sebagai seorang bawahan, si aku tentu tidak bisa berbuat banyak di hadapan atasannya, kecuali hanya mengikuti setiap perintah yang diberikan oleh atasannya tersebut. Betapapun kadang kala setiap suruhan dan perintah atasan bertentangan dengan keinginan si aku, tetapi si aku tetap berusaha untuk tersenyum. Hal ini tampak pada larik hanya ekspresi senyum yang ada di wajahku// saat menangis// saat marah// saat kecewa// hanya ada senyuman di wajahku//. Inilah sebuah realita yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bagaimanapun seseorang kadang kala punya keinginan, harapan, cita-cita, namun semuanya itu bisa ‘kandas’ ketika berhadapan dengan para penentu kebijakan.

Pada akhirnya, tetap saja keinginan mereka juga yang terlaksana. Hanya ekspresi ‘seyuman’ yang tersisa. Puisi Demi dan Untuk Hari ini yang ditulis oleh Mardho Tilla menggambarkan sebuah kepasrahan dalam menghadapi kehidupan. ‘Mengeluh’, itulah kata yang sering didengar ketika manusia menghadapi banyak persoalan dalam kehidupan. Bukankah ini juga sebuah realita? Ketika manusia ditimpakan dengan berbagai bentuk kesusahan, penderitaan, kesengsaraan, maka yang sering terdengar adalah keluhan.

Kadang kala manusia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya. Manusia akan terus berusaha untuk memenuhi semua kebutuhannya. Namun, ketika gagal, maka mengeluhlah yang ada. Padahal, manusia dituntut untuk bersikap sabar atas segala bentuk kesengsaraan yang dialami. Dalam puisi Hujan Paruh Kedua, Dedi Supendra mengetengahkan tentang bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada, walau hanya setetes hujan di tengah malam. Peluang dan kesempatan itu seyogyanya dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Pepatah mengatakan "kesempatan tidak datangdua kali". Lewat Hujan Paroh Kedua, Dedi Supendra mengemukakan hal itu.

Selamat untuk Agusmanto, Mardho Tilla, dan Dedi Supendra. Teruslah berkarya, berimajinasi, dan ekspresikan ke dalam puisi. Salam.


✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Agusmanto, Mardho Tilla, Dedi Supendra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.