Menjelang hari-hari besar, asap tipis dari tungku kayu masih terlihat mengepul di Jorong IX Abam, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Di sela-sela kesibukan warga, tradisi Malamang kembali dijalankan, menghadirkan aroma khas yang bagi sebagian orang bukan sekadar bau makanan, tetapi juga kenangan.
Tradisi Malamang ini sudah lama hidup di tengah masyarakat. Sijon, salah seorang tokoh masyarakat Kampung Abam, masih mengingat bagaimana kebiasaan ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia merasa Malamang bukan hanya soal memasak, melainkan tentang kebersamaan yang sudah mengakar sejak dulu.
"Tradisi ini memang sudah dilakukan dari zaman dulu dan terus dilanjutkan sampai sekarang," tuturnya.
Biasanya, Malamang dilakukan pada momen-momen tertentu, seperti sehari menjelang Hari Raya Idulfitri, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, atau saat ada kegiatan adat. Saat itu, warga terlihat sibuk di sekitar rumah masing-masing. Tidak ada tempat khusus. Dari halaman hingga samping rumah, bambu-bambu berisi beras ketan dan santan disusun rapi di dekat api.
"Biasanya dimasak di samping rumah masing-masing," kata Sijon, sambil mengenang suasana ramai yang dulu sering ia lihat.

Di masa lalu, Malamang memiliki peran penting. Sijon mengingat, saat pilihan makanan belum sebanyak sekarang, lamang menjadi hidangan utama yang selalu hadir di hari besar. "Dulu belum banyak makanan seperti sekarang, jadi lamang itu yang paling utama," jelasnya.
Namun, suasana kini tak sepenuhnya sama. Rini, salah seorang warga, melihat ada perubahan dalam keterlibatan masyarakat. Tradisi ini memang masih dilakukan, tetapi tidak lagi melibatkan semua orang seperti dulu.
"Sekarang masih ada, tapi memang tidak semua masyarakat selalu ikut," ujarnya.
Rini merasa tantangan terbesar justru datang dari generasi muda. Ia mengaku khawatir jika anak-anak muda semakin jarang terlibat, Malamang perlahan hanya akan menjadi cerita.
"Kami takut kalau generasi muda kurang ikut andil, lama-lama tradisi ini bisa ditinggalkan," katanya.
Meski begitu, setiap kali asap dari tungku mulai naik dan aroma lamang menyebar, warga Jorong IX Abam masih bisa merasakan satu hal yang sama: tradisi ini belum benar-benar pergi. Selama masih ada yang mau mengingat, merasa, dan melanjutkan, Malamang akan tetap menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!