Katanya negeri ini adil
tapi keadilan sibuk cuti panjang,
mungkin ikut rapat
bersama janji-janji yang tak pernah pulang.
Buruh diminta sabar,
sementara harga naik tanpa izin,
upah ditahan dengan senyum,
lalu disebut "kebijakan demi kepentingan".
Ah, lucu sekali negeri ini
keringat dihitung murah,
tapi laba dihitung sakral,
seolah manusia hanya angka "HANYA ANGKA"
yang boleh dihapus kapan saja.
Kontrak diperpanjang,
hidup dipendekkan,
outsourcing jadi agama baru
"percaya saja, masa depan nanti juga… ya nanti."
Tapi kapan nantinya?
Sementara di sekolah,
anak-anak belajar satu hal penting
bukan ilmu
tapi bagaimana bertahan dalam ketimpangan.
Gedung retak dibiarkan,
guru digaji sekadarnya,
tapi pidato tetap megah:
"menuju Indonesia emas"
emas siapa?
Kami bertanya,
tapi jawaban selalu sibuk bersembunyi
di balik statistik yang dipoles rapi,
seakan penderitaan bisa disensor.
Negara berdiri gagah di podium,
namun hilang di jalanan,
ketika buruh di-PHK,
ketika pendidikan jadi barang dagangan.
Kami bukan bodoh Pak, Buk
kami hanya terlalu lama dipaksa diam.
Terlalu lama dibungkam
Hari ini kami bicara,
dengan suara yang dianggap bising
sebab ternyata
kebenaran memang selalu terdengar mengganggu.
Jika keadilan hanya slogan,
maka biarkan jalanan jadi kamusnya.
Jika negara lupa,
biarkan kami yang mengingatkan
dengan teriakan,
dengan langkah,
dengan luka yang akhirnya memilih untuk melawan
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!