Puisi

Bertelapak Surga

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 28 April 2026 16:42 WIB • 👁 326 Pembaca
Bertelapak Surga
Ilustrasi: Pinterest

Ribuan mata itu murah—
lebih murah dari harga diri yang kau injak.
Rak usang berderit di kepala
menyusun tubuhnya
seperti daging yang boleh dipilah,
ditawar,
lalu dibawa pulang dalam fantasi nyata


Kami berdiri sebagai manusia
tapi dipaksa jadi lukisan nyata
setiap langkahnya dipelototi
setiap lekuknya diterjemahkan
ke bahasa yang tak pernah kami setujui


Bahkan ketika menutup diri
dengan kain paling panjang,
Sangat panjanggggg
paling sunyi,
paling taat
mereka tetap menelanjanginya
dengan pikiran yang lebih telanjang dari dosa.


Jika kami diam—
Kau merasa berhak.
Jika kami tertawa—
Kau merasa diundang.
Jika kami melawan—
kau menyebutnya api yang harus dipadamkan.


Lalu moral berdiri
bukan sebagai penjaga,
tapi algojo yang pincang:
tajam ke arahnya
tumpul ke pelaku.


KAMI
rahim yang melahirkan peradaban
Tangan yang membesarkanmu kawan
justru dikurung dalam ciptaannya sendiri


tak aman di rumah,
tak utuh di jalan,
kami minum dari pengorbanan
makan dari ketabahan
lalu menyisakan ia
sebagai cerita yang disalahkan.


Cukup.


Kan kami koyakkan
wajah peradaban busuk itu
biar matamu kehilangan terang,
biar siulan kotormu tersedak di tenggorokan

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Zahroh Salsabila Basir
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.