Cerpen

ARSITEK DI BALIK TIRAI KABUT

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 28 April 2026 08:27 WIB • 👁 388 Pembaca
ARSITEK DI BALIK TIRAI KABUT
Ilustrasi: Pinterest

Baskara adalah seorang pejabat di Gedung Pusat Administrasi Terpadu (GPAT). Ia sudah lama bergelut dengan rutinitas birokrasi di kota Astina. Kota itu setiap harinya tercekik oleh kabut polusi yang tebal. Sebagai pria berintegritas, ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan proyek pengadaan sensor udara. Proyek yang seharusnya menjadi solusi bagi warga itu justru ditutupi oleh kerahasiaan yang tidak masuk akal.

"Pak Baskara? Ini kopi Anda. Tanpa gula, sesuai permintaan," ujar Rian, asisten barunya, sambil meletakkan cangkir yang mengepulkan uap.

Rian kemudian menutup pintu dengan rapat. Ia mendekat dan berbisik, "Ada yang janggal, Pak. Berkas PT Citra Abadi yang Bapak minta mendadak berubah status."

"Statusnya menjadi 'Rahasia Terbatas' per jam tujuh pagi tadi. Semuanya terkunci di sistem internal," lanjut Rian dengan wajah cemas.

Baskara menyesap kopinya yang pahit. Matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan gedung-gedung hantu di balik asap.

"Rahasia Terbatas? Itu proyek publik, Rian. Pengadaan sensor udara bukan rahasia negara," sahut Baskara dingin.

"Di gedung ini, ketika sebuah dokumen mendadak menjadi rahasia, biasanya ada sesuatu yang sedang disembunyikan di balik angka-angkanya."

Tak lama, Pak Darmono muncul dengan senyum lebar. Ia adalah Kepala Biro Umum sekaligus atasan yang membukakan jalan karier Baskara.

"Ayo, ikut aku makan siang, Bas. Ada restoran baru di puncak Hotel Grand Astina," ajak Darmono ramah.

"Aku dengar kamu menanyakan berkas Citra Abadi lagi pagi ini?" tanyanya sambil lalu.

Di dalam mobil dinas yang merayap di tengah kemacetan, Darmono akhirnya memecah keheningan.

"Standar itu buatan manusia, Bas. Dan manusia bisa salah. Yang penting sekarang adalah proyek ini jalan tepat waktu," ujar Darmono.

"PT Citra Abadi itu mitra strategis orang-orang di parlemen. Jika kontrak ini lancar, anggaran dinas kita aman."

Darmono menatap Baskara dengan penuh tekanan. "Kamu mau program beasiswa anak sekolahmu tetap jalan, kan?"

"Tentu saja, Pak. Tapi apa hubungannya dengan sensor udara yang kualitasnya dipertanyakan?" tanya Baskara.

"Hubungannya adalah kompromi," potong Darmono cepat saat mereka sudah di meja makan mewah.

"Rakyat hanya butuh harapan. Mereka melihat sensor baru dipasang, mereka merasa pemerintah sedang bekerja."

Ia melanjutkan, "Apa gunanya memberi tahu mereka bahwa udaranya beracun jika mereka tetap harus keluar rumah? Itu hanya akan menciptakan kepanikan."

Malam harinya, di sebuah kedai mi ayam yang tersembunyi, Maya memberikan informasi penting. Jurnalis itu membeberkan kenyataan pahit kepada Baskara.

"PT Citra Abadi hanya ujung dari gunung es, Bas. Mereka membeli alat murah dari luar negeri, tapi ditagihkan ke negara dengan harga premium."

"Mereka sedang menjual ilusi," tegas Maya. "Kamu harus menemui Subrata, mantan kepala keuangan yang 'dibuang' karena menolak laporan fiktif."

Baskara pun menemui Subrata di sebuah rumah sunyi. Pria tua itu tampak sudah lama mengasingkan diri.

"Saya sudah menunggu orang seperti Anda datang, Baskara," ujar Subrata sambil menyodorkan amplop cokelat kusam.

"Seratus dolar?" suara Baskara tercekat saat membaca isinya. "Mereka membeli unit ini seharga seratus dolar, tapi menagih sepuluh ribu dolar ke kas daerah?"

"Itu belum yang terburuk," tambah Subrata parau. "Perangkat itu dirancang untuk 'tidur' saat polusi mencapai level berbahaya."

Subrata menatap Baskara dengan sedih. "Rakyat akan melihat angka biru yang aman di layar, sementara paru-paru mereka sebenarnya sedang terbakar."

Hari Senin, Baskara berdiri tegak di ruang rapat utama. Ia berdiri tepat di hadapan Darmono dan para petinggi lainnya.

Ia melempar amplop cokelat itu ke tengah meja. Suaranya bergema di seluruh ruangan.

"Saya mencari fakta yang Anda sembunyikan di balik label 'Rahasia Terbatas', Pak. Fakta bahwa sensor ini sebenarnya barang rongsokan."

"Sensor sepuluh ribu dolar ini diprogram untuk berbohong," tegas Baskara tanpa ragu.

"Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan, Bas! Kamu menghancurkan proyek strategis nasional!" teriak Darmono dengan wajah pucat pasi.

"Detik ini juga, kamu dibebastugaskan!" lanjutnya sambil menggebrak meja.

"Saya sedang menyelamatkan napas warga Astina," jawab Baskara tenang sambil meletakkan lencana emasnya di atas meja.

"Lencana ini tidak berguna jika hanya dipakai untuk menutupi kebusukan."

Skandal itu meledak di seluruh layar kota berkat bantuan Rian dan Maya. Tak lama kemudian, Baskara didatangi oleh Aristha di sebuah klub malam. Aristha adalah otak di balik sistem korporasi tersebut. Ia menatap Baskara dengan tatapan dingin yang mengancam.

"Kamu sudah membakar lumbungnya, Baskara," sapa Aristha. "Hentikan investigasimu, atau aku punya cukup banyak 'sampah' untuk memenjarakanmu."

Baskara berdiri tanpa sedikit pun menyentuh minuman yang ditawarkan. Ia tampak tidak gentar sama sekali.

"Kamu salah satu hal, Aristha. Kamu pikir aku ingin menjadi pahlawan?" tanya Baskara retoris.

"Aku bertindak karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan. Dan perlu kau tahu, Rian sedang menyiarkan percakapan ini secara langsung."

Baskara melirik jam tangannya. "Siaran ini sudah berjalan sejak lima menit yang lalu melalui radio komunitas. Selamat malam."

Enam bulan kemudian, di teras ruko barunya, Pak Subrata datang berkunjung. Ia membawa sebuah pot anggrek yang sedang mekar.

"Anggrek ini butuh waktu lama untuk mekar di udara seperti ini, Bas. Tapi dia berhasil," ujar Subrata sambil tersenyum.

Baskara menatap langit yang mulai jingga. Cahaya matahari kali ini terasa lebih jujur menyentuh kulitnya.

"Mau pesan mi lagi, Pak?" tanya Rian. Anak muda itu kini bekerja bersama Baskara di lembaga swadaya Lensa Publik.

Baskara tersenyum. "Ya. Kali ini, pakai tambahan sawi hijau yang banyak. Kita butuh tenaga untuk sisa perjalanan ini."

Ia menyesap teh hangatnya. Di layar televisi tua di pojok kedai, terlihat berita tentang penangkapan para pejabat korup.

Wajah-wajah yang dulu pongah kini tertunduk di balik rompi oranye. Namun, kemenangan ini ternyata memiliki rasa yang rumit.

Baskara bergumam pelan, "Meski para koruptor sudah ditangkap, kabut di kota Astina tidak akan langsung hilang begitu saja."

Maya yang duduk di sampingnya mengangguk. "Menyingkap kebohongan hanyalah langkah pertama."

"Membangun kembali sistem yang sudah berkarat adalah tugas yang jauh lebih berat," tambah Maya lagi.

Baskara bangkit dari duduknya. Ia melangkah masuk ke dalam ruko untuk melanjutkan pekerjaan audit berikutnya.

Ia tahu masih banyak tirai yang harus disingkap. Perjuangannya menjaga napas warga Astina baru saja dimulai.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Putrie Assyifa Thahira
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.