Puisi

Sandiwara Kekuasaan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 14 November 2025 15:28 WIB • 👁 262 Pembaca
Sandiwara Kekuasaan
Ilustrasi: KOMPAS.com

Oligarki kini tak lagi bersembunyi.
Dulu mereka menutupi wajah dengan topeng demokrasi.
Tapi kini mereka menari di atas panggung kekuasaan tanpa malu, tanpa dosa.


Mereka bersulang di atas penderitaan rakyat.
Menyelamatkan nafsu bukan bangsa.
Miris... Mereka lupa siapa yang mengangkat mereka ke singgasana itu.
Lupa bahwa kursi empuk yang mereka duduki dibangun dari keringat dan harapan orang-orang kecil.


Kini, suara mereka hanya gema di ruang kosong, terdengar tapi tak dihiraukan.
Untuk apa lagi kita bicara tentang demokrasi, jika suara yang seharusnya didengar justru dikubur oleh kepentingan pribadi.
Untuk apa lagi berbicara musyawarah, jika semua ditelan oleh keserakahan.


Mereka menyebut diri "wakil rakyat" tapi lupa siapa rakyat itu.
Mereka bicara tentang keadilan sambil menimbang untung rugi di timbangan kekuasaan.


Dan kita? Kita hanya penonton yang menyaksikan sandiwara yang sama,
dengan aktor yang berbeda, tapi naskah yang selalu serupa.
Tentang kuasa, rakus, dan pura-pura peduli.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Nafidza Sadrina
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.