Oligarki kini tak lagi bersembunyi.
Dulu mereka menutupi wajah dengan topeng demokrasi.
Tapi kini mereka menari di atas panggung kekuasaan
tanpa malu, tanpa dosa.
Mereka bersulang di atas penderitaan rakyat.
Menyelamatkan nafsu bukan bangsa.
Miris... Mereka lupa siapa yang mengangkat mereka ke
singgasana itu.
Lupa bahwa kursi empuk yang mereka duduki dibangun
dari keringat dan harapan orang-orang kecil.
Kini, suara mereka hanya gema di ruang kosong,
terdengar tapi tak dihiraukan.
Untuk apa lagi kita bicara tentang demokrasi, jika
suara yang seharusnya didengar justru dikubur oleh kepentingan pribadi.
Untuk apa lagi berbicara musyawarah, jika semua
ditelan oleh keserakahan.
Mereka menyebut diri "wakil rakyat" tapi lupa siapa
rakyat itu.
Mereka bicara tentang keadilan sambil menimbang untung
rugi di timbangan kekuasaan.
Dan kita? Kita hanya penonton yang menyaksikan
sandiwara yang sama,
dengan aktor yang berbeda, tapi naskah yang selalu
serupa.
Tentang kuasa, rakus, dan pura-pura peduli.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!