Kita bersumpah mamah
Darah nan tumpah
Air bersibak tanah
Kami satu nusa, katanya?
Badan satu, merajut asa, tak nyata
Diksi indah hanyalah lilin di istana merah
Yang padam kala angin pragmatisme menampar wajah
Tanah air satu, katanya megah
Terus-tergerus oleh segelintir darah
Sumpah itu pilar, atau hanya puisi barbar?
"Bangkitlah", gonggong cacing bersuara nyaring
Regar Sukma yang menyesakkan kerongkongan
Sumpah pemuda, api semu nan mengepul
Sementara asap membumbung harap retak
Oh betapa indah sumpah itu berkumandang
Kata-kata diresapi formalitas atau formalintas
Kita bersumpah bukan untuk dipuja
Tapi untuk diuji, dalam tumpukan dusta
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!