Cerpen

Ruang Hening di Antara Ekspektasi

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 11 Desember 2024 12:20 WIB • 👁 720 Pembaca
Ruang Hening di Antara Ekspektasi
Sumber Ilustrasi: kibrispdr.org

Malam itu, aku berbaring di atas kasur, lampu kamar sengaja kuatur redup. Dalam gelap yang tenang, pikiranku melayang jauh, membayangkan hari esok.

Kamis pagi, 14 November 2024. Aku telah menyiapkan diri dengan baik malam ini, membaca ulang materi selama 20 menit.

Materinya terasa akrab, seperti pertemuan ketiga di awal semester. Aku memejamkan mata, membayangkan diriku yang esok akan menjadi berbeda.

Kelas itu terasa lebih hidup. Aku melangkah masuk dengan percaya diri, membawa semangat baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Teman-teman sudah memenuhi kursi mereka, beberapa sibuk mengobrol ringan, yang lain memeriksa catatan.

Bu Rita masuk dengan senyum hangatnya, seperti biasa.

"Assalamualaikum,"sapanya.

"Waalaikumsalam, Bu," kami menjawab serentak.

Presentasi dimulai. Kelompok yang maju tampil percaya diri, memaparkan materi dengan jelas. Aku mendengarkan dengan saksama, mencatat poin-poin penting yang mereka sampaikan.

Ketika sesi tanya jawab tiba, aku merasa dadaku berdegup cepat. Ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku sungguh siap.

Aku mengangkat tangan.

"Maaf, saya ingin bertanya," kataku, mencoba menahan gugup.

Mata Bu Rita beralih kepadaku. Ia tersenyum kecil, seolah memberiku dorongan.

"Silakan," katanya.

Aku melontarkan pertanyaan yang sudah kupikirkan matang-matang semalam.

Kelas menjadi hening sejenak, lalu diskusi mulai bergulir. Pertanyaanku memancing tanggapan yang beragam, dan beberapa teman ikut menambahkan pendapat.

Bu Rita tampak puas, sesekali mengangguk mendengar diskusi yang mengalir. Presentasi berjalan lancar, dan saat sesi tanya jawab, aku berhasil menjawab dengan penuh percaya diri.

Tidak ada rasa gugup, hanya kepuasan karena persiapanku benar-benar terbayar. Di akhir kelas, Bu Rita berbicara dengan nada penuh kebanggaan.

"Hari ini, saya sangat bangga pada kalian semua. Terima kasih telah menunjukkan kreativitas dan kesungguhan yang luar biasa," katanya.

Tepuk tangan memenuhi ruangan. Aku merasa seperti menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, kelas yang kembali bersinar setelah sebelumnya redup.

Namun, kenyataan tak selalu seindah khayalan.

Kamis pagi itu datang, dan saat aku melangkah masuk ke kelas, perasaan ganjil menyelimutiku. Langit terlihat mendung, seperti menggambarkan suasana hatiku yang cemas.

"Assalamualaikum," suara Bu Rita memecah keheningan.

Kami menjawab serentak, tapi nada kami terdengar datar, seperti sekadar formalitas.

Presentasi dimulai, namun materi yang disampaikan terasa hambar. Ketika sesi tanya jawab tiba, tidak ada antusiasme. Aku ingin bertanya, tapi ragu. Kata-kata yang sudah kupikirkan semalam seolah menguap begitu saja.

Bu Rita mulai bertanya kepada mahasiswa di sisi kanan kelas. Satu per satu menjawab dengan berbagai alasan: belum membaca, lupa, atau sibuk organisasi.

Ketika giliran Zahrani, jawabannya malah menyalahkan teman-teman lain yang dianggap tidak serius. Suasana kelas semakin suram.

Ketika akhirnya giliran kursi sayap kanan ditanya, hanya beberapa yang mengaku membaca materi. Keheningan melanda kelas. Bu Rita, yang biasanya tegar, menundukkan wajah. Aku melihatnya menghapus air mata yang jatuh perlahan.

"Saya kecewa," katanya lirih.

"Kalian adalah kelas yang selalu saya banggakan. Saya berharap lebih, karena saya sayang dan percaya pada kalian. Dari awal saya merasa kelas ini memiliki potensi yang sangat bagus."

Keheningan pun melanda kelasku. Bu Rita pun menangis kecewa, karena dari awal ia sangat berekspektasi tinggi kepada kelas kami, dan menjadikan kelas kami sebagai contoh.

Ia juga menjadikan kelas kami sebagai pembanding dengan kelas lain, karena percaya dan sayangnya kepada kelas kami. Bahkan saat seminar internasional bulan lalu, hanya kelas kami yang ditawarkan untuk ikut.

Kami semua terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada kuis, tidak ada diskusi menarik, hanya keheningan yang menggantung berat di udara. Keheningan itu menemani kelasku untuk introspeksi diri dan mengambil pelajaran atas apa yang terjadi hari ini.

Hari ini membuat aku banyak belajar bahwa tidak akan baik berekspektasi tinggi terhadap sesuatu, karena itu sakit, dan tidak baik juga menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi dengan menjadikannya alasan. Kata yang dibutuhkan atas kesalahan itu hanya kata maaf dan introspeksi diri.

Malam itu, aku kembali ke kamarku, duduk di meja yang sama, dengan cahaya lampu yang sama. Ekspektasi yang kubangun semalam berubah menjadi kenyataan yang berbeda.

Namun, ada sesuatu yang kupelajari: menghayal itu indah, tapi bertindak, jauh lebih penting. Jika aku ingin esok menjadi seperti yang kubayangkan, maka aku harus berani melangkah lebih jauh, meski berat.

Kata "maaf" dan introspeksi adalah awal, tapi keberanian untuk bangkit adalah kunci. Langit malam itu cerah, seolah memberiku harapan dan aku tahu harapan itu masih bisa kugapai.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Sandifa Anggraini
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (1)

Y
Youchak

Serasa diriku ada di dalam cerita😌

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.