Menerawang jauh anganku,
Kala kupandang jauh hamparan langit yang membiru,
Semilir angin menyapa tanpa ragu,
Membasuh luka lama yang bersarang di kalbu.
Perih,
Lirih,
Dadaku berdegup hebat, kala lintasan bayang membangunkan lamunku.
Kuraba dada yang tak kunjung tenang; dentuman itu.
Kuhapus paksa air mata yang menetes di pipiku.
Kau tahu, betapa kejam dirimu menghantui relungku?
Bak pedang tertancap di dadaku.
Tak ada yang mampu menghentikan sesakku.
Namun, pelukan angin berhasil menenangkan raga yang tak bernyawa.
Ia lepas lembut pedang itu, jadi penawar obat akan sakit deritaku
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!