Puisi

Awan Gerhana

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 3 Maret 2024 21:43 WIB • 👁 501 Pembaca
Awan Gerhana
Sumber foto: Pngtree

Terus memerah baju yang sudah kering, berharap akan ada air yang menetes;
Seolah itu terus basah dan tak akan kering;
Terus mengupas lapisan bawang, berharap tiba di sisi paling baik; seolah ia memiliki jutaan lapisan
Tidakkah itu kejam,
Bagimu meninggalkan melodi ini disetiap sarafku seolah aku mampu melupakannya?
Tidakkah itu ironis,
Bagiku membenci namaku sendiri, hanya karena pernah terucap di bibirmu?

Seharusnya aku begini;
Seharusnya aku begitu;
Seharusnya aku mengatakan ini;
Seharusnya aku mengatakan itu;
Seharusnya aku membiarkanmu; pergi;
Seharusnya aku merelakanmu pergi.

Haruskah aku memaafkanmu?
Tuhan, hatiku masih berdebar saat melihatmu.
Tapi kau adalah ciptaan yang paling kucela;
Kucoba melihat lembaranmu;
Berharap ada alasan untukku mempertahankanmu;
Tapi kau adalah lagu kematian ditengah jutaan lagu sedih yang tak mungkin ingin kuputar;
Kau adalah malapetaka bagi taman yang ingin kembali hidup; Kau adalah awan hitam saat gerhana bulan.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Syahla Nurmadhatillah Sothy
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.