Cerpen

Homesick

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 29 Januari 2024 22:26 WIB • 👁 1.073 Pembaca
Homesick
Sumber foto: Google

Seperti biasa, Lucky menjalani kuliahnya. Tak ada hal baru yang ia lihat, bahkan terkadang ia bosan dengan kuliahnya. Perasaan excited yang ia rasakan disaat baru masuk ke kampus sekarang sudah pergi begitu saja. ⁣
⁣
Masih teringat jelas di kepala Lucky ketika dia melompat sambil teriak histeris gembira bersama teman-temannya karena pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi, apalagi mereka lulus di perguruan tinggi impian mereka. ⁣
⁣
Tiga tahun mereka belajar giat sampai mengambil les tambahan seusai sekolah demi mengejar kampus dan jurusan yang mereka inginkan. Namun, Lucky sedikit berbeda dari teman-temannya. Lucky memilih kampus yang letaknya jauh sekali dari tempat tinggalnya, bahkan letaknya beda pulau dengan domisili Lucky, berbeda dengan teman-teman Lucky yang masih memilih kampus di kota yang sama.⁣
⁣
Meskipun ada yang memilih kampus di luar kota, setidaknya kampus itu masih berada di provinsi yang sama dan bisa ditempuh melalui jalur darat. ⁣
⁣
Namun, karena ini merupakan keinginan Lucky, ia pun sudah siap dengan segala hal dan resiko yang harus ia jalani karena pilihannya.⁣
⁣
Orang tua Lucky juga pada saat itu bingung bagaimana mereka harus menanggapi pilihan anak semata wayang mereka. Orang tuanya senang anak mereka diterima di kampus terbaik dan sesuai dengan keinginan anak mereka, tapi mereka juga bimbang untuk melepas anak mereka sejauh itu. ⁣
⁣
Mereka tidak memikirkan soal biaya, bagi mereka pendidikan anak itu adalah nomor satu. Namun, jika nanti Lucky sudah mulai kuliah, tentu mereka akan jarang bertemu dan Lucky juga pasti akan jarang mengunjungi mereka selama kuliah.⁣
⁣
"Ky, kamu beneran yakin ngambil di sana kuliah?" tanya Ibu Lucky pada anaknya.⁣
⁣
Lucky pun menjawab pertanyaan ibu tanpa sedikitpun rasa ragu, "Yakin dong, Bu! Kalau enggak, ngapain Ky mati-matian ngambil les tiap pulang sekolah? Ya biar bisa kuliah di sana, Bu."⁣
⁣
Ibu lalu tersenyum kecil. "Kalau begitu, kamu harus bersiap-siap dari sekarang, Ky. Kapan kamu akan ke sana?" tanya ibu lagi.⁣
⁣
"Dua minggu lagi, Bu," jawab Lucky santun.⁣
⁣
Ibu dan Lucky lalu segera menuju ke pasar membeli beberapa perlengkapan yang sekiranya bisa dibawa oleh Lucky. Karena Lucky akan pergi dengan pesawat, tentu tak banyak barang yang bisa ia bawa. Ibu dan Lucky pun berhenti di sebuah toko baju.⁣
⁣
"Ky, beli baju kuliah kamu disini aja, ya. Agak tiga baju aja, nanti sisanya bisa kamu beli di sana. Soalnya kalau kuliah kan nggak pakai seragam lagi. Jadi, kamu kudu punya baju agak variasi dikit, kecuali kalau kamu mau masuk ke kampus yang ada seragamnya, hehe," ucap ibu sambil tertawa kecil.⁣
⁣
"Hahaha, iya, Bu. Mending lima aja deh. Soalnya baju yang Ky punya sekarang juga nggak banyak. Lagian kalau beli di sini Ibu bisa bantu nawar. Kalau di sana kan belum tentu bisa. Soalnya Ky juga nggak bisa nawar," canda Lucky.⁣
⁣
"Iya lah. Soal nawar itu emang cuma emak-emak yang jago, ya kayak Ibu ini, lah!" balas ibu terhadap candaan Lucky. ⁣
Mereka lalu membeli tiga kemeja dan dua kaos. Tak lupa membeli sebuah laptop karena Lucky juga butuh laptop untuk kuliah.⁣
⁣
Dua minggu berlalu begitu cepat sehingga tak terasa bagi Lucky bahwa ia harus berangkat sekarang. Sang Ayah mengantar Lucky ke bandara bersama ibu. Sesampainya di bandara, Lucky pun pamit dan meminta doa serta restu kedua orang tuanya. ⁣
⁣
Lucky juga mengatakan ia akan mengusahakan untuk pulang setiap libur semester karena ia tak bisa seperti teman-temannya yang lain di mana mereka bisa berkunjung setiap dua minggu atau bahkan tiap bulan pulang ke rumah.⁣
⁣
Tiga tahun kemudian.⁣
⁣
Sekarang Lucky sudah berada di semester lima. Rasanya kuliah makin melelahkan bagi dirinya. Sudah satu tahun ia tidak bisa mengunjungi orang tuanya pulang ke rumah. Itu karena ia mengambil kerja part time demi membantu ekonomi keluarga selama menjadi mahasiswa. ⁣
⁣
Di samping itu, waktu liburan semester ini, ia juga disibukkan dengan kegiatan kepanitiaan acara seni yang akan diadakan di kampus sehingga membuatnya tak bisa pulang. ⁣
⁣
Berbeda dengan teman sekolahnya yang meski juga ikut kepanitiaan acara di kampus mereka, tapi masih bisa pulang karena kampus mereka tidak sejauh kampus tempat Lucky menimba ilmu.⁣
⁣
Terkadang saat ia membuka status Whatsapp atau story Instagram, ia cukup iri melihat temannya yang kadang di sela-sela perkuliahan bisa menyempatkan diri pulang karena kampus mereka yang tidak terlalu jauh dari rumah. ⁣
⁣
"Begini deh kalau kampus cuma beda kota, tiap dua minggu pulang perbaikan gizi guys :D" begitulah bunyi caption salah satu Instastory temannya. ⁣
⁣
Awalnya. Lucky berpikir akan menyenangkan bila kuliah jauh dari rumah karena akan membuatnya jauh lebih mandiri dan ia takkan merasakan homesick. ⁣
⁣
Kini, ia tertampar kenyataan bahwa merantau ke tempat yang sangat jauh tidak semenyenangkan itu dan sekarang ia sangat merindukan rumah dan orang tuanya.⁣
⁣
"I miss you, Home<𝟹," tulisnya di sebuah kertas. Kertas tersebut ia lipat menjadi pesawat kertas dan menerbangkannya asal ke luar jendela kamarnya.⁣

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Ihsan Ananda Fajar
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.