Dia memetik buah berwarna merah.
Dioleskannya di antara kelopak mata.
Lalu dia menghilang begitu saja
seperti tak pernah ada.
Aku pun tersadar, dia adalah aku
dalam cermin.
Bukan menghilang, dia adalah aku,
hanya kembali ke tubuh asli.
Tak menginginkan apapun yang
menyakiti diri.
Dia adalah aku, ingin menerima duri
yang muncul di sekujur tubuh.
Tanpa memotong satu duri pun yang
membuat cacat.
Dia adalah aku, kembali memetik buah
berwarna merah.
Bukan dipoles di kelopak mata, tapi
di setiap retak di kepala.
BACA JUGA:
Kenyataan Pahit Negeri Ini
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!