Raut wajah perempuan itu terlihat lebih muram dari malam-malam sebelumnya. Tangannya mengenggam sepucuk surat berisikan beberapa kalimat yang ia hindari. Kalimat "Dengan berat hati kami nyatakan bahwa anda tidak lulus ke tahap selanjutnya" terpampang jelas di bagian teratas surat tersebut.
Kepala gadis itu seakan berhenti bekerja. Tatapannya kosong. Perasaan kecewa dan sedih datang bersamaan menghampirinya.
Inilah mengapa manusia berusaha menghindar dari menyakiti diri sendiri dengan tidak mengharapkan lebih pada suatu hal. Harapan yang kita miliki tersebut sering sekali membawa kita pada kekecewaan.
Perempuan tersebut tahu sekali akan hal tersebut dan ia sudah bersusah payah untuk meletakkan harapannya serendah mungkin. Namun, usaha tersebut tidak menghasilkan apapun, perasaan kecewa itu tetap datang dan menggerogoti bagian hatinya yang terdalam.
Perlahan air matanya pun jatuh, ia bukanlah seorang yang mudah menangis, tapi bukan berarti hatinya terbuat dari batu. Teringat dalam benaknya seberapa banyak usaha yang ia lakukan untuk masuk ke dalam program tersebut. Tak lagi terhitung berapa hari, jam, menit, hingga detik yang telah ia habisi untuk mempersiapkan segala berkas serta tes agar memenuhi persyaratan.
Tak lama kemudian, gawai yang terletak disampingnya pun berbunyi. Orang tuanya telah menanyakan kabarnya, "Bagaimana hasilnya, Kak?"
Melihat pesan itu, air matanya yang terhenti sejenak kembali keluar, rasa enggan menyerobot masuk ke dalam saraf yang ada di tangannya. Dibandingkan dirinya, orang tuanya pasti memiliki harapan yang lebih besar. Ia tidak ingin mengecewakan mereka, tetapi nasi telah menjadi bubur, ia tetap harus mengabari mereka.
Ungkapan kasih sayang memenuhi layar gawai perempuan itu, berisi kalimat bahwa ia telah melakukan yang terbaik dan tetap bisa mencoba lagi tahun depan. Isi pesan itu harusnya membuatnya merasa lebih baik, tetapi perempuan itu merasakan hal yang sebaliknya. Ini bukan pertama kali ia gagal dalam sesuatu dan ia muak. Sangat muak.
Mengapa ia tidak pernah berhasil sebesar apapun usahanya? Apakah ia memang ditakdirkan untuk gagal dan mengecewakan orang yang ia sayangi?
Setelah menjawab pesan penuh cinta itu dengan serangkaian kalimat terima kasih dan maaf, perempuan itu memutuskan untuk berkelana ke alam mimpi, mungkin disana ia bisa menjadi seorang perempuan yang dapat dibanggakan orang-orang yang ia sayangi.
---
Pagi itu ia dibangunkan oleh terangnya sinar cahaya yang masuk lewat jendelanya. Perempuan itu bingung, bukankah ia menutup jendelanya dengan gorden tebal sebelum tidur? Seharusnya tidak ada cahaya yang mampu mengenai wajahnya saat itu.
Matanya menyisir ruangannya dan mendapati perempuan yang ia sangat kenali dengan senyuman lebar, yang lebarnya mungkin dapat membuat siapapun yang melihatnya merinding, duduk di pojok kamar tidurnya. "Farah?" tanyanya sambal mengucek matanya.
"Ding dong!" sahut perempuan bernama Farah yang berdiri di pojok kamar itu sambil tertawa lebar. Matanya yang sebelumnya hampir hilang karena senyum lebarnya sekarang hilang sepenuhnya ketika ia tertawa. Tangannya lalu ikut menari dan kakinya meloncat, sepertinya ia sangat senang dengan ucapan gadis itu.
"Kamu nggak bertanya kenapa aku disini, Ri?" tanyanya ketika sudah puas bergerak. Rianna, yang masih duduk termenung di atas kasurnya akhirnya menghentikan lamunannya. Di hari biasanya, mungkin ia akan membalas kegembiraan temannya itu dengan sama antusiasnya, tapi kesedihan yang ia rasakan tadi malam masih tersisa.
Ia hanya menggeleng pelan lalu bertanya, "Kenapa, Far?"
Farah yang dapat memahami raut wajah teman didepannya dengan senyum simpul. "Aku hari ini mau ngajak kamu keliling kota! Ayuk ikut aku! Bosan banget tau!" perintahnya. Mau tidak mau Rianna menggerakkan kakinya menuju kamar mandi walaupun ia sangat tidak ingin pergi keluar hari ini.
---
Mata Rianna tidak berhenti memandang gedung didepannya, jika ia tidak memiliki rasa malu mungkin mulutnya akan terbuka lebar saking kagetnya. Teman yang disampingnya ini membawanya ke salah satu pameran seni yang sangat ia ingin datangi, bagaimana ia bisa lupa?
Pameran seni ini berbeda dibandingkan pameran seni lainnya, dibandingkan seni yang biasanya hanya terpampang dalam bingkai, kali ini seluruh ruangannya dari lantai dan dinding dipenuhi oleh karya seni tersebut.
Bunga matahari memenuhi mata mereka, pameran seni yang bersifat interaktif ini membuat Rianna ingin menangis sekali lagi, tapi kali ini bukan dikarenakan perasaan sedih melainkan rasa haru karena ia tidak menyangka akan melihat sesuatu yang seindah apa yang ada dihadapannya sekarang.
Kedua perempuan itu memutuskan untuk melanjutkan jalan mereka dan mengelilingi seluruh sisi pameran. Terdapat ruangan yang berisikan lentera, ada juga ruangan yang membuat kita merasa seperti berada di depan air mancur, serta ada ruangan yang berisikan berbagai macam warna.
Di ruangan terakhir, hanya terdapat sebuah video yang melihatkan berbagai landscape alam dari berbagai sudut pandang. Potongan terakhir dalam video tersebut berisikan video matahari terbit yang ditambahi kalimat 'Regardless of what happens, it is meant to be.'
Terlepas dari apa yang terjadi, itu dimaksudkan untuk menjadi. Mungkin bagi orang lain, kalimat tersebut tidak terlalu penting, tapi bagi Rianna kalimat itu seakan memberikannya harapan baru. Ia tersadarkan bahwa menelan diri sendiri dalam kesedihan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Merasakan sedih akan sesuatu kegagalan itu hal yang wajar dan lumrah, dan kita memang pantas untuk merasakan kesedihan. Namun kesedihan kita tersebut juga perlu batasnya, karena jika tidak maka emosi kita tersebut yang akan mengontrol kita dan bukan sebaliknya.
Tatapan Rianna mengarah ke temannya yang selalu berada di sebelahnya. "Menurut kamu, 'meant to be' yang dimaksud tulisan tadi apa, Far?" tanyanya.
Farah yang melihat perubahan sikap Rianna tersenyum lebar, "Kayak kita, Ri. Aku jawab pertanyaanmu ini saja sudah seperti ditakdirkan. Setiap langkah yang kita ambil sedari tadi juga takdir, apalagi kegagalan ataupun kesuksesan yang sudah kita lewati. Kita mungkin tidak suka dengan takdir itu, tapi kita bukan Tuhan, Ri. Kita tidak bisa mengembalikan waktu, yang hanya dapat kita lakukan adalah belajar dari pengalaman dan menyukuri hal-hal tersebut. Menurutku tidak ada pengalaman yang sia-sia, everything is meant to be, to me," jawabnya.
---
Setelah berpamitan dengan Farah dan Kembali ke kamar, Rianna membuka laptopnya dan memeriksa isi e-mail. Matanya tertuju pada e-mail terbaru yang muncul di bagian atas.
Ia langsung membuka e-mail tersebut, paragraf pertama sang pengirim menulis, "Saya melihat profil anda di database dan menurut saya anda memiliki potensi besar untuk tumbuh dan mengembangkan karir masa depan Anda. Jadi, dengan ini saya menawarkan kepada anda posisi volunteer pada program kami."
Matanya melebar melihat serangkaian kalimat tersebut. Ini sesuatu yang tidak pernah terlintas dibenaknya, tetapi bukan berarti ia tidak suka. Rianna adalah orang yang selalu suka mencoba peluang yang baru dan menambahnya pengalamannya akan sangat membantunya nanti di masa depan, ia yakin akan hal itu.
Karena sekali lagi, segala hal terjadi untuk suatu alasan. Regardless of what happens, it is meant to be.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!